COP 15 Tidak Peroleh Kemajuan

Hingga Kamis (17/12) siang waktu setempat, belum terlihat kemajuan berarti dari deadlock yang terjadi sejak Rabu malam dalam negosiasi COP 15 di Kopenhagen. 

‘’Situasi di lapangan (arena konferensi) tidak begitu bagus. Saat ini tantangan berat, terdapat mistrust yang tinggi, proses ke arah kesepakatan besok masih macet,’’ ujar Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal kepada wartawan di Hotel Crowne Plaza Kopenhagen, tempat Presiden SBY menginap, Kamis siang waktu setempat.

Dino mengatakan saat ini para pemimpin negara sedang gencar-gencarnya melakukan lobi demi terciptanya sebuah kesepakatan politik yang sedianya akan ditandatangani oleh para kepala negara pada hari terakhir konferensi, Jumat (18/12). ‘’Sekarang negosiasi sedang berada di tingkat uncertainty. Ini masanya melakukan lobi-lobi guna mewujudkan sebuah konsensus politik. Banyak lobi-lobi untuk menciptakan kompromi berdasarkan teks (pidato para kepala negara) yang ada. Ini akan berlangsung terus sampai besok. Semua memegang kartu truf yang akan dikeluarkan pada saat-saat terakhir. Kalau perlu diperpanjang (konferensi), ya diperpanjang.’’

Ia mengatakan lobi-lobi juga aktif dilakukan Presiden SBY sejak menyampaikan pidato pada Kamis siang. Presiden SBY antara lain melakukan pertemuan dengan Sekjen PBB Ban Ki Moon, PM Australia Kevin Rudd, serta PM Thailand Abhisit Vejajiva selaku pemegang kepemimpinan ASEAN.

Presiden, kata Dino, juga menugaskan Menlu Marty Natalegawa untuk menemui Presiden Sudan selaku ketua kelompok negara berkembang G77. ‘’Kalau dilihat pengalaman di Bali (COP 13 2007), banyak terjadi perubahan selama 24 jam terakhir.’’

Dino mengatakan pidato sikap Indonesia yang disampaikan Presiden SBY pada hari pertama high level segment, Kamis, memang dirancang untuk menjembatani negara maju dan berkembang untuk mendorong konsensus.

Pidato SBY, kata Dino, banyak mendapatkan reaksi positif karena mengangkat posisi yang berbeda. ‘’Sekjen PBB Ban Ki Moon menghargai pidato Presiden. Mudah-mudahan ini menjadi pemicu yang baik untuk terciptanya kompromi.’’

Ia mengatakan tak dapat membayangkan jika pertemuan Kopenhagen, yang telah disiapkan sejak Bali 2007 lalu, gagal mencapai kesepakatan. ‘’Kalau ini (pertemuan Kopenhagen) macet, maka negara-negara akan jalan sendiri-sendiri. Sementara para ahli telah mengatakan perubahan iklim hanya bisa dikontrol melalui upaya kolektif. [Republika]

Tinggalkan komentar

Filed under Environment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s