Gendang Perang Aburizal Bakrie Vs Sri Mulyani

Perang terbuka tengah terjadi antar pejabat negara. Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani saling tuding atas ‘dosa’ masing-masing, yang berujung pada penyelidikan kasus Bank Century.

“Aburizal Bakrie tak senang kepada saya,” ungkap Sri Mulyani dalam wawancara dengan harian The Wall Street Journal, edisi Kamis (10/11) lalu. “Saya tak berharap orang-orang di Golkar akan berlaku adil dan baik hati dengan saya selama penyidikan.”

Sri mulyani menganggap penyelidikan yang akan dilakukan Panitia Hak Angket Bank Century Dewan Perwakilan Rakyat merupakan upaya mendiskreditkan dirinya. Apalagi panitia yang berisi para politikus itu diketuai anggota Dewan Fraksi Golkar, Idrus Marham.

Berangkat darisitulah Sri Mulyani merasa bahwa Bakrie akan menjatuhkan dirinya, melalui tangan Idrus Marham di Dewan. Namun anggapan itu dibantah Idrus. “Terlalu kecil Golkar kalau hanya memikirkan Sri Mulyani,” tandasnya.

Lalu timbullah pertanyaan tentang apa yang membuat Sri berpikiran negatif terhadap Bakrie. Setelah ditelusuri, melalui sumber Tempo, ada empat ‘dosa’ Sri Mulyani di mata Bakrie.

Pertama, karena Sri meminta pencabutan penghentian sementara perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk pada 7 Oktober 2008. Kemudian, keputusan pencekalan terhadap sejumlah petinggi perusahaan batu bara Bakrie.

Lalu ‘dosa’ ketiga Sri Mulyani yang dituding Bakrie ialah semburan lumpur Lapindo dianggap akibat dari kesalahan manusia. “Sehingga semua damapk kerugian harus ditanggung Bakrie selaku pemilik Lapindo,” ujar sumber tersebut.

Penolakan Badan Pengawas Pasar Modal terhadap PT Energi Mega Persada, unit usaha Grip Bakrie yang juga pemilik Lapindo, untuk mengalihkan sahamnya ke pihak lain menambah besar kegusaran Aburizal Bakrie.

Terakhir, lanjut sumber itu, ialah penolakan Sri Mulyani atas keinginan Bakrie membeli 14 persen saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara. “Saat menjabat pelaksana tugas Menko Perekonomian, Sri Mulyani meminta agar seluruh saham dibestasi Newmont dibeli oleh perusahaan negara.”

Meski begitu, ketika jabatan Menteri Koordinator Perekonomian berpindah ke Hatta Rajasa, melalui Multicapital akhirnya Bakrie bisa mendapatkan 75 persen dari 14 persen saham Newmont. Keinginan Bakrie terwujud walau tak sampai 100 persen.

Namun anggapan Sri Mulyani serta empat kesimpulan sumber Tempo tersebut dibantah juru bicara Aburizal Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa. Menurut Lalu, tidak ada dendam pribadi dari Aburizal kepada Sri Mulyani dalam masalah bisnis.

Saat terpilih menjadi anggota kabinet periode 2004-2009, Aburizal telah jauh dari bisnis. “Tidak ada masalah, apalagi dendam pribadi,” ujar Lalu. [tempointeraktif]

Tinggalkan komentar

Filed under News, Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s