Venomena Minggu Terakhir AS dan Eropa

Pekan lalu, Lembaga Eurostat dalam laporan terbarunya mempublikasikan parahnya kondisi ekonomi di 16 negara di Eropa. Berdasarkan laporan tersebut, laju ekonomi ke 16 negara tersebut menurun lebih dari 2,5 persen pada tiga bulan pertama 2009 dibanding dengan tiga bulan akhir tahun 2008. Eurostat mengumumkan produk domestik bruto juga menurun 4,9 persen dalam empat bulan terakhir ini. Perekonomian Eropa dalam 12 bulan terakhir dihadapkan pada anjloknya laju ekonomi secara berturut-turut. Krisis ekonomi dan keuangan dunia mengakibatkan keterpurukan perekonomian negara-negara Eropa dan menyebabkan menurunnya produksi industri dan ekspor negara ini. Para pakar ekonomi berkeyakinan bahwa perekonomian Eropa bergantung pada ekspor. Kondisi ini tentunya berdampak buruk pada negara-negara benua ini.

Bagian industri Eropa dalam beberapa bulan terakhir menghadapi anjloknya laju ekonomi pada titik drastis. Disebutkan, perindustrian Eropa dalam tiga bulan terakhir menurun 8,5 persen. Menteri Keuangan Luxemburg, Jean- Claude [Yunker], di sidang para menteri ekonomi Uni Eropa, pekan lalu, mengatakan, “Krisis ekonomi di Eropa hingga kini masih berada di tengah jalan.” Diprediksikannya, krisis keuangan global akan membuat produk domestik bruto Eropa menurun menjadi kurang dari 1 persen pada tahun 2010 dari 2,2 persen pada tahun 2009.

Pekan lalu, Presiden AS, Barack Obama melawat Moskow guna memperbaiki hubungan dengan Rusia. Obama dan rekan sejawatnya, Dmitry Medvedev menandatangani nota kesepahaman untuk merundingkan traktat baru pengendalian senjata strategis guna mengurangi jumlah hulu ledak nuklir dan rudal balistik. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan keduanya di Moskow. Pada prinsipnya kedua negara sepakat untuk membatasi kepemilikan hulu ledak nuklir kurang dari 1.700 unit. Dalam perundingan Moskow, Obama dan Medvedev juga menandatangani kesepakatan lain tentang kerjasama militer kedua negara. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Rusia menyetujui penggunaan zona udara dan daratnya oleh tentara AS untuk pengiriman senjata dan logistik militer ke Afghanistan.

Rusia dan AS juga sepakat memulai lagi kerja sama militer kedua negara yang terputus Agustus tahun lalu akibat perang di Georgia. Sejumlah kesepakatan yang dicapai dalam kunjungan Obama ini sebagai upaya pemulihan hubungan kedua negara yang terganggu akibat berbagai masalah. Rencana penempatan perisai rudal AS di Eropa Timur, perluasan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hingga ke perbatasan Rusia, dan masalah Kaukasus, merupakan sejumlah friksi antara Moskow-Washington pada masa pemerintahan George W. Bush. Masalah tersebut menyeret hubungan bilateral kedua negara kembali ke era Perang Dingin.
Selama masa itu, Rusia berulangkali memprotes kebijakan unilateralisme dan ketidakpedulian AS terhadap kebijakan Rusia dalam menyelesaikan berbagai krisis global. Namun menyusul krisis ekonomi dan finansial di AS, dan perang Afghanistan dan Irak mendesak Obama untuk merangkul Rusia dengan memulihkan hubungan kedua negara. Tapi bukanlah langkah mudah bagi kedua pemain dunia ini untuk mengesampingkan kompetisi di antara mereka. Sebab kebijakan itu menuntut adanya sikap saling menghormati dan memahami posisi masing-masing.

Meski Obama mengklaim keseriusannya untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia, namun ia enggan membatalkan program penempatan perisai rudal di Eropa Timur yang dinilai sebagai ancaman bagi keamanan Rusia. AS masih terus berupaya mempertahankan keunggulan di bidang militer dalam menghadapi Rusia. Selain itu, Obama juga meminta Medvedev untuk menghormati kedaulatan dan wilayah teritorial Georgia. AS masih terus mendukung sekutunya di kawasan strategis Kaukasus termasuk mengupayakan keanggotaan Georgia di NATO. Padahal Rusia mengkhawatirkan kehadiran militer NATO di dekat perbatasannya dan meminta AS untuk tidak memperjuangkan keanggotaan Georgia di organisasi militer tersebut.

Sebelum bertolak ke Moskow, Obama juga sempat mengeluarkan pernyataan tentang pelanggaran hak asasi manusia dan kebebasan sipil di Rusia. Sebaliknya, Kremlin berulangkali mengingatkan pelanggaran HAM di AS dan kinerja buruk negara itu di Afghanistan dan Irak. Kesepakatan Gedung Putih-Kremlin sepertinya tidak akan pernah terwujud selama AS masih terus melestarikan kebijakan unilateralismenya.

Pekan lalu , KTT G8 digelar di Italia. AS, Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Kanada, Jepang dan Rusia adalah negara-negara anggota G8. Dalam KTT ini, para pemimpin negara industri besar dunia yang tergabung dalam G8 pada akhirnya sepakat mengurangi emisi gas rumah kaca secara terjadwal. Berdasarkan kesepakatan itu, negara-negara industri harus mengurangi 80 persen emisi gas rumah kacanya hingga 2050. Sedangkan negara-negara berkembang harus mengurangi setengah dari emisi gas rumah kaca.

Namun tampaknya, AS tidak akan menjalankan deklarasi Italia hingga ke tahap akhir. Sebab, mewujudkan perubahan dalam roda produksi dan konsumsi AS akan menelan biaya besar. Terlebih pemerintah Cina sebagai salah satu produsen terbesar gas rumah kaca hingga kini belum menyatakan persetujuannya terhadap deklarasi Italia. Negara-negara industri lainnya di Eropa dan Asia juga tidak menunjukkan ketertarikan mereka untuk melaksanakan kesepakatan tersebut setelah dilanda badai krisis finansial. Apalagi situasi ekonomi masih belum menentu dan risiko signifikan masih mengancam stabilitas ekonomi serta keuangan setiap negara. Oleh sebab itu, para aktivis lingkungan hidup meragukan keputusan G8 untuk mengurangi 80 persen emisi gas rumah kaca hingga 2050.

Selain itu, KTT G8 juga membahas krisis ekonomi di dunia dan bantuan kepada negara-negara miskin di Afrika.Dalam KTT tersebut, negara-negara anggota G8 menyebut AS sebagai pihak yang bertanggung jawab artas krisis kali ini. Untuk itu, mereka meminta Washington supaya membenahi struktur keuangan dan perekonomian di dunia seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, sistem keuangan baru berlandaskan beberapa mat uang asing sebagai ganti dari monopoli dolar dalam menentukan arah perekonomian dunia.

Mengenai bantuan kepada negara-negara Afrika, para anggota G-8 berkomitmen menambahkan dana 25 milyar dolar AS ke negara-negara Afrika hingga tahun 2010. Pada KTT 2005 di Scotlandia, negara-negara anggota G8 juga berjanji mengucurkan dana sebesar 25 milyar dolar pertahunnya ke benua Afrika hingga tahun 2010. Namun berdasarkan laporan PBB dan Uni Afrika, bantuan yang dijanjikan tersebut hanya dicairkan seperempat dari jumlah yang dijanjikan kepada Benua Afrika.

Pekan lalu, tewasnya delapan pasukan Inggris di Afghanistan dalam kurun 24 jam menyebabkan jumlah tentara Inggris yang tewas di negara ini lebih banyak dari jumlah personel yang tewas di Irak. Kondisi inilah yang menyebabkan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown menuai kritik tajam dari opini umum dan media-media negara ini. Tentara Inggris yang tewas di Afghanistan mencapai 184 personel sejak tahun 2001. Sementara itu, tentara Inggris yang tewas di Irak berjumlah 179 personel sejak tahun 2003.

Dalam kurun 10 hari, 15 personel militer Inggris tewas di Afghanistan. Mereaksi kondisi ini, Brown mengakui bahwa tentara negaranya mengalami musim panas yang sulit di negara ini. Sementara itu, Ketua Kelompok Konservatif yang juga oposisi pemerintah Inggris menilai minimnya peralatan militer Inggris di Afghanistan menyebabkan banyaknya korban yang tewas di negara ini. Media-media Inggris juga menyebutkan ketidakefektifan kinerja militer Inggris di Afghanistan. Aliansi Stop Perang juga menghendaki demonstrasi hari Senin pekan mendatang guna menekan pemerintah Inggris supaya menarik pasukannya dari Inggris.

Pekan lalu, Marwa el-Sherbini, seorang wanita Muslim hamil tiga bulan, ditikam hingga tewas dalam ruang sidang Dresden Jerman. Kejadian penikaman itu berlangsung di depan mata anak pertama Marwa yang berusia 3 tahun. Dalam kejadian itu, si pelaku menikam tubuh Marwa 18 kali hanya dalam waktu 30 detik. Ketika menyaksikan penikaman tersebut, suaminya, yang berada di Jerman dalam rangka studi atas beasiswa riset dari Max Planck Insititute, langsung membantunya, tapi ia ditikam pula serta ditembak oleh petugas yang salah mengira bahwa ia adalah penyerang. Si pelaku yang hanya diidentifikasikan sebagai Alex W, 28 tahun, masih ditahan. Kini, jaksa tengah melakukan investigasi terhadap tersangka pembunuhan tersebut.

Namun sangat disayangkan pemerintah dan media-media Jerman yang mengklaim pendukung hak-hak asasi manusia, memilih bersikap bungkam dalam mereaksi brutalitas tersebut. Yang lebih parahnya lagi, pihak kepolisian menyatakan bahwa aparat yang saat itu berada di pengadilan salah menembak suami el-Shebrini yang dikira sebagai penyerang. Namun pihak kepolisian Jerman sama sekali tidak menyatakan permintaan maaf atas kekeliruan tersebut. Kesyahidan seorang muslimah berjilbab di Jerman di tempat yang paling aman, yakni ruang pengadilan, menunjukkan bahwa Eropa bukanlah tempat yang aman bagi para imigran dan kelompok minoritas. Namun kesyahidan Marwa dapat dinilai sebagai korban propaganda anti-Islam di Barat. Tentu saja, kejadian ini mengkhawatirkan ummat Islam, khususnya kalangan muslimah di negeri ini. [irib].

Tinggalkan komentar

Filed under Report

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s