Pembunuhan Marwa Motif Kriminal Murni?

Sebagaimana yang dilaporkan televisi al-Jazera terkait kecurigaanBELGIUM-ISLAM/DEMO Mahmoud Ahmadinejad, President terpilih Iran terkait kasus terbunuhnya Marwa Sharbini cukup beralasan. Bagaimana tidak, ruang pengadilan tempat terjadinya peristiwa tersebut semestinya menjadi tempat yang paling aman dari tindakan kriminal semisal yang dialami Marwa. Ruang tempat orang mencari keadilan, dan tempat membangun kepercayaan publik bagi penegakan hukum yang menjaga harmonisasi kehidupan social dan bernegara.

Bayangkan saja, tusukan 18 kali yang dialami Syahidah Marwa, dilakukan oleh seorang Jerman berkebangsaan Rusia tersebut tentunya membutuhkan waktu yang lumayan lama hingga dapat melakukan penusukan sebanyak itu. Bukankah ini menunjukkan indikasi yang kuat adanya pembiaran atau bahkan berbau konspirasi dengan perencanaan-perencanaan yang telah lebih dahulu dirancang.

Pemerintah Republik Islam Iran (RII) kelihatannya sangat serius memberi perhatian terhadap peristiwa yang dialami Syahidah Marwa Syarbini. Dan mereka (Iran) bersikap kritis atas kejadian tersebut, sebagaimana yang dapat dikutip dari pernyataan-pernyataan pejabat Iran dalam menyikapi hal tersebut, khususnya pernyataan-pernyataan President Mahmoud Ahmadinejad. Perhatian besar Iran terhadap apa marwaelsherbini-syahidahyang dialami Marwa sampai-sampai namanya diabadikan sebagai sebuah nama jalan di Iran. Kelihatanya posisi secara umum antara Barat dengan Islam masih berada pada posisi berhadap-hadapan yang tercirikan dari benturan-benturan paradigma dan model peradaban. Atau dalam istilah Samuel Hatington, “Class civilization”.

Jelas sekali phobia Islam di Jerman saat ini berada pada titik puncak. Dan bukan hanya terjadi dikalangan masyarakat kebanyakan secara cair begitu saja, yang disebabkan oleh propokasi-propokasi dan opini media untuk mencitrakan Islam sebagai agama ekstrimis dan non-humanis.Islamophobhi 2 Namun telah terbentuk organisasi-organisasi yang solid bagi mencegah pengaruh perkembangan Islam di negeri tersebut. Hal ini dapat kita saksikan saat terjadi porters atas pembangunan menara masjid besar Ehrenfeld di Cologne, Jerman. Mesjid yang telah dibangun dengan 40 tahun usaha keras umat Muslim di Jerman tersebut mengundang protes dengan konsolidasi massa besar-besaran sebagai wujud kecemasan warga Negara tersebut atas perkembangan Islam di Eropa secara umum.

Protes tersebut terutama dilakukan oleh kelompok kiri di Cologne. Melalui wadah Pro Cologne, mereka berusaha mendapat dukungan dari kalangan kiri di Austria dan Belgium. Kampanye Pro Cologne memandang langkah pembangunan masjid sebagai upaya “Islamisasi Eropa”. Bisa saja venomena-venomena seperti itu juga relevan dikaitkan dengan peristiwa yang menimpa Marwa.

Pemerintah Jerman tidak menganggap hal ini sebagai bentuk diskriminasi atas suatu keyakinan yang mungkin dikarenakan Negara tersebut belum mengakui Islam sebagai salah satu agama resmi yang telah mendapat penganut sekitar 3,2 juta di Jerman, dan hampir setengah darinya bersal dari Turki. Angin segar dating dari pernyataan Mendagri Jerman, Wolfgang Schrauber di berbagai media, bukan Juni lalu yang mengatakan pihaknya menyerukan dan akan mengusahakan pengakuan negara Jerman terhadap agama Islam sebagai agama resmi negara, serta memberikan hak-hak kepada organisasi-organisasi Islam di negeri itu setara dengan organisasi Gereja Katolik dan Protestan. Pernyataan yang diiringi permohonan maaf kepada umat Islam Jerman yang menjadi pihak yang luput diundang perwakilannya untuk mengikuti perayaan 60 tahun didirikannya Jerman Modern dan disahkannya Undang-undang negera tersebut. Schrauber menegaskan, dirinya berharap keluputan tersebut tidak akan terulang kembali di masa-masa mendatang. Pernyataan Mendagri tersebut seolah-olah menjadi janji-janji kosong mengingat apa yang dialami Marwa, bahkan terjadi ditempat terhormat dan dihormati, ruang pengadilan.

Apa yang terjadi pada Marwa semestinya mengundang reaksi yang keras dan massif dari Negara-negara berpenduduk Muslim, dan secara khusus adalah Mesir yang notabene nya Negara asal Syahidah Marwa dan ia adalah warga Negara tersebut. Tetapi kelihatannya protes-protes keras yang terjadi di Mesir hanya dilakukan oleh warganya. Tidak ada tuntutan dan pandangan yang lebih kritis dari pemerintah Mesir dalam menyikapi khasus Ini. Padahal kejadian tersebut tidak bisa dilihat sebagai kasis kriminal murni, apalagi sekedar tindakan yang hanya dilakukan oleh satu orang.

Marwa adalah simbul muslimah yang terzalimi ditenggah-tengah wargaMuslimJerman2 bangsa yang phobia terhadap Islam dan simbul-simbul yang dikenakan pemeluknya. Simbul bahwa sikap rasisme masih menyelimuti dan menjadi catatan kelam Eropa dan Barat pada umumnya. Meskipun selogan penghargaan atas hak azasi manusia (HAM) menggelegar dari belahan bumi tersebut, namun seperti nyala lampu senter yang hanya bisa menyorot sesuatu diluarnya, namun tak pernah dapat menyorot dan menerangi dirinya sendiri. [vendra]

Tinggalkan komentar

Filed under Culture/Civilization, Human Right, Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s