Obama Banting Setir Di Irak

Sebelum terpilih menjadi presiden AS, Barack Obama dalam kampanyenya mendengungkan isu perubahan dan berjanji menarik militer AS dari Irak jika terpilih menjadi presiden negara adidaya ini. Kini setelah berhasil memenangkan pemilu presiden, Obama mulai dimintai warga AS untuk merealisasikan janjinya. Salah satunya adalah penarikankeluar militer AS dari Irak. Cara apakah yang akan ditempuh Obama untuk menarik militer AS dari Baghdad sehingga tidak mengesankan Washington kalah dalam perang di Irak.
Presiden AS, Barack Obama mengumumkan strategi baru yang akan diberlakukan Washington di Irak. Berdasarkan program baru Obama, sekitar sepertiga pasukan AS yang ditempatkan di Irak akan ditarik dari negara ini hingga Agustus 2010. Saat berada di pangkalan militer AS di Carolina utara, Obama mengatakan, misi pasukan AS di Irak hingga akhir Agustus 2010 resmi berakhir, namun sekitar 35 hingga 50 ribu pasukan ini akan tetap tinggal di Baghdad hingga akhir tahun 2011 sebagai penasehat militer Irak, menghadapi teroris dan menjaga kepentingan Washington.
Namun Obama di sela-sela keputusannya untuk menarik pasukan AS dari Irak tetap berpendapat bahwa kondisi Baghdad hingga kini masih belum aman dan negara ini di masa mendatang tetap menghadapi kesulitan. Obama sendiri sepertinya tidak memperhatikan pernyataan pemerintah Baghdad yang siap menerima pelimpahan tanggung jawab dari pasukan AS untuk mengamankan wilayah mereka sendiri. Apalagi warga Irak sejak invasi militer AS ke negaranya pada Maret 2003 hingga kini telah berulangkali menyatakan bahwa kondisi parah yang ada disebabkan kehadiran pasukan asing.
Keputusan Obama untuk menarik sejumlah besar militer AS dari Irak adalah untuk memenuhi janjinya saat kampaye pemilihan presiden AS lalu. Kini ia dituntut oleh warganya untuk memenuhi janjinya tersebut. Tampaknya dalam hal ini Obama tidak mempunyai pilihan lain kecuali memenuhi janjinya. Tapi dengan pernyataanya yang menyatakan kondisi Irak yang masih belum aman dan tekadnya untuk meninjau ulang keputusannya terkait penarikan militer AS dari Irak jika kondisi di negeri 1001 malam ini masih kacau lebih condong sebagai jalan mundur bagi Obama. Dengan pernyatannya ini Obama ingin mengesankan bahwa AS tidak gagal di Irak sehingga harus keluar dari negara ini secara memalukan.
Biaya besar yang harus ditanggung Gedung Putih untuk membiayai perang di Irak dan Afganistan sangat besar. Apalagi kini AS dilanda resesi ekonomi besar-besara. Para wajib pajak di negara adidaya ini mempertanyakan alokasi uang yang mereka bayar kepada pemerintah. Mereka tidak rela membiarkan uangya digunakan untuk membantai warga Irak dan Afganistan. Tuntutan dari dalam dan kondisi ekonomi yang amburadul membuat Obama terpaksa harus menghentikan militeralisasi di Irak. Paket stimulus penyelamatan ekonomi yang disodorkan Obama ke Kongres akhirnya disetujui meski mendapat berbagai kritik baik dari lawan politiknya maupun warga sendiri.
Namun bagaimana posisi Obama sebenarnya saat ini. Presiden baru AS ini kini berada dalam posisi yang sulit. Satu sisi ia dihadapkan pada tuntutan warga yang mendukungnya sebagai presiden dalam pilpres lalu. Perhatian warga AS saat ini tertuju pada Obama, apakah pilihan mereka ini akan melaksanaka janjinya untuk menarik militer AS dari Irak dalam tempo 16 bulan. Dari sisi lain Obama menemui kesulitan untuk mewujudkan janjinya karena adanya pakta keamanan Washington-Baghdad yang disepakati kedua negara di penghujung kekuasaan George W. Bush.
Oleh karena itu, Obama tengah mencari perimbangan untuk keluar dari kondisi yang ia hadapi saat ini. Karena meninggalkan sekitar 50 ribu militer AS di Irak menunjukkan Obama tetap mematuhi pakta keamanan Washington-Baghdad. Berdasarkan kesepakatan ini militer AS akan meninggalkan seluruh wilayah Irak hingga akhir tahun 2011. Namun sepertinya Obama tidak mudah untuk memujudkan janjinya. Di saat ia meminta departemen pertahanan AS (Pentagon) untuk mengkaji rencana penarikan militer AS dari Irak, para penentang rencana ini berusaha menggagalkan rencana Obama dengan memperingatkan bahwa kondisi di Irak masih belum aman dan pemerintah Baghdad belum mampu mengamankan negaranya.
Misalnya saja sikap Menteri Pertahanan (Menhan) AS, Robert Gates yang mengeluarkan pernyataan tendensius tentang Irak saat Presiden negara itu, Barack Obama mengumumkan waktu penarikan tentara AS dari Irak. Seraya menyatakan kekhawatirannya terkait kondisi Irak, Robert Gates mengatakan bahwa Irak akan terus menghadapi berbagai masalah. Ia juga mengklaim bahwa AS mencapai keberhasilan penting pada level militer selama berada di Irak. Namun, dari sisi politik masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di negara itu.
Baru-baru ini, sejumlah pejabat Washington juga mengakui adanya perbaikan kondisi di Irak. Dengan melihat realita tersebut, sikap khawatir Gates soal situasi keamanan di Irak sepertinya ditujukan untuk menjustifikasi pentingnya memperpanjang misi militer Gedung Putih di kawasan. Menhan, Robert Gates dan Panglima Militer AS di Irak, Jenderal Raymond Odierno termasuk pihak yang mendukung urgensi kehadiran pasukan AS di Irak untuk jangka panjang.
Kebijakan Obama juga menunjukkan bahwa tidak ada jalan lain kecuali memenuhi tuntutan publik AS dan memenuhi janji-janji pemilunya termasuk penarikan pasukan AS dari Irak. Akan tetapi, pernyataan Gates telah menyisakan pertanyaan besar terkait terlaksananya kebijakan Obama secara menyeluruh. Sebab, kubu Republik masih terus mencari alasan untuk bisa bercokol lebih lama di Irak. Sebagian kalangan politik juga meyakini bahwa pejabat AS tengah menyusun skenario untuk bisa bertahan lebih lama di Irak bahkan sampai setelah 2011.
Sementara itu, reaksi Partai Demokrat dan Republik dalam menghadapi strategi Obama di Irak pun berbeda. Partai Republik sebagai kubu yang menentang penarikan militer AS dari Irak hingga akhir tahun 2011 memperingatkan bahwa hal ini bisa memicu munculnya kembali kerusuhan dan instabilitas keamanan di Irak. Baru-baru ini salah seorang senator kubu Republik menyatakan, Obama kepada anggota Kongres memberikan jaminan bahwa jika kerusuhan dan instabilitas keamanan di Irak terus berlanjut maka ia akan meninjau ulang rencana penarikan militer AS dari Baghdad.
Duta Besar AS di Irak, Ryan Crocker yang dalam waktu dekat akan meyerahkan posisinya kepada Christopher Hill menilai penarikan militer AS dari Irak jangan dilakukan tergesa-gesa, karena mungkin saja akan mengakibatkan munculnya kembali kerusuhan di negara ini. Kubu Demokrat sendiri mengkritik Obama karena menyisakan 50 ribu militer AS di Irak. Terkait hal ini, Ketua DPR AS, Nancy Pelosi mengatakan, anggota Partai Demokrat di Kongres menilai penetapan 50 ribu militer AS di Irak setelah batas waktu yang disepakati Wasington-Baghdad sama halnya dengan pelanjutan pendudukan dan tidak akan mengakhiri kerusuhan yang ada.
Lain lagi sikap yang ditunjukkan pejabat Irak terkait keputusan Obama. Perdana Menteri Irak, Nuri Al-Maliki mengatakan, militer dan pasukan keamanan Irak siap untuk mengambil alih kontrol keamanan dari pasukan asing. Anggota senior Aliansi Irak Bersatu, Ali Al-Adib menyatakan, keputusan Obama untuk menarik militer AS dari Irak pada Agustus 2010 sesuai dengan pandangan pemerintah Baghdad yang menilai tahun 2010 adalah waktu yang tepat bagi Washington untuk menarik militernya. Deputi presiden Irak, Tariq Al-Hashimi seraya menyambut baik rencana Obama menekankan pentingnya untuk meningkatkan kemampuan militer Irak. Warga Irak sendiri yang sejak semula menentang kehadiran militer AS menuntut rencana ini laksanakan secepatnya.
Para pengamat sendiri merasa pesimis dengan strategi Obama. Menurut mereka, strategi ini tidak mampu memenuhi harapan bangsa Irak. Dari sisi lain, tidak ada keharusan terjadi perubahan kondisi militer AS di Irak pada tahun 2009, kecuali apa yang telah ditetapkan dalam pakta keamanan Washington-Baghdad. Dalam pakta tersebut dijelaskan militer AS pada Juni mendatang harus segera meninggalkan seluruh kota dan desa di Irak dan tinggal di pangkalan militer. Sejak saat itu, militer AS dilarang berkeliaran di kota dan pedesaan Irak. Jenderal Raymond Odierno mengatakan, prioritas militer AS di Irak pada tahun 2009 adalah menjaga keamanan pemilu parlemen di Baghdad.
Namun pernyataan Odierno in bertentangan dengan realita dan kinerja yang ditunjukkan militer AS sendiri. Militer Irak telah menunjukkan kemampuan mereka untuk mengamankan jalannya pemilu di negara ini. Pemilu daerah yang baru berlangsung adalah bukti dari realita ini bahwa militer Irak memiliki kapabilitas untuk mengamankan jalannya pemilu parlemen yang akan berlangsung akhir tahun ini. Di sisi lain, keputusan Obama untuk menyisakan 50 ribu militernya di Irak merupakan dukungan terhadap strategi mantan presiden AS, George W. Bush yang menilai para teroris menunggu kesempatan keluarnya militer AS dari Irak sehingga mereka bisa berbuat onar dan merusak kinerja Gedung Putih di Baghdad selama ini.
Isu teroris yang senantiasa didengungkan AS tak lebih hanya kedok belaka untuk menjajah kawasan yang kaya minyak di Timur Tengah. Siapa yang disebut teroris hingga saat ini pun masih kabur. Kalau mereka yang berjuang demi memerdekaan negaranya dari penjajah kemudian disebut teroris ini jelas tidak sesuai dengan realita dan konvensi internasional di mana seluruh bangsa di dunia berhak untuk hidup merdeka dan lepas dari penjajahan. Pertanyaan lain yang muncul adalah, bagaimana kelompok teroris ini muncul, sebut saja kelompok Taliban dan Alqaeda di Afganistan dan Pakistan. Siapa yang membentuk dan mensuplai dana bagi kelompok ini. Tak diragukan lagi bahwa AS berada dibalik kelompok-kelompok radikal seperti ini. Mereka dapat membantu kepentingan AS baik disadari maupun tidak. Keberadaan mereka menjadi dalih bagi Gedung Putih untuk mengirim tentaranya ke negara tertentu dengan alasan memerangi terorisme.
Ironisnya umat Islam di dunia dan khususnya bangsa Timur Tengah kurang waspada terhadap makar dan tipu daya AS. Mereka menurut saja doktrin Washington yang didiktekan kepada mereka. Rasa solidaritas mereka sesama muslim telah luntur. Tengok saja peristiwa tragis yang dihadapi warga Paletina di Jalur Gaza. Pemerintah Arab bungkam menyaksikan pembantaian massal warga Gaza. Pemerintah Arab Saudi yang mengaku sebagai penjaga dua tempat suci umat Islam malah mendukung Rezim Zionis Isarel.
Tapi yang pasti, pernyataan Obama yang menekankan misi militer AS di Irak adalah menjaga kepentingan Washington dapat ditanggapi sebagai strategi negara adidaya ini untuk tetap bercokol di Irak dalam waktu lama meski setelah tahun 2011. Strategi ini akan tetap dilaksanakan meski dengan alasan pelatihan militer Irak atau dalam bentuk lain. Realita ini membuat harapan bahwa AS akan mengubah kebijakannya di Irak kian tipis. [irib.ir].

Tinggalkan komentar

Filed under Article, Conflict, Politic, Security

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s