Kebutuhan Manusia terhadap Ideologi dan Pandangan Dunia

Oleh: Ayatullah Misbah Yazdiepisteme1920_xthumb

Objek pembahasan kita pada kesempatan kali ini adalah menjelaskan ideologi Islam dan memaparkan posisinya vis a’ vis ideologi Marksisme beserta konsepnya yang ada. Penjelasan kedudukan ideologi Islam dalam berhadapan dengan ideologi Marksis dapat ditelurkan dalam sebuah bentuk pertanyaan, apakah ideologi ini memiliki konsep yang valid atau tidak? Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pemahaman terhadap sesuatu didapatkan melalui media dan perantara bahasa atau lughah, oleh karena itu sebelum memulai setiap pembahasan, makna setiap terminologi dan bahasa yang akan dibahas haruslah jelas, sehingga ia dapat dipahami secara benar, khususnya -kata- yang mempunyai makna dan peristilahan yang berbeda-beda, supaya terhindar dari pemaknaan yang melenceng atau relatif.

Apa itu Ideologi?
Terminologi pertama yang kita hadapi dalam pembahasan ini adalah “ideologi”, sebuah istilah impor yang berasal dari Barat. Ada baiknya kita gunakan istilah tersebut, supaya kita memiliki terminologi yang sama dengan yang digunakan oleh mitra dialog, dan terminologi ini juga telah banyak digunakan oleh para pemikir Barat.

Ideologi secara leksikal terdiri dari kata “ide” dan “logos“, yang berarti ilmu tentang akidah, atau kepercayaan. Tetapi terkadang ideologi berarti Akidah itu sendiri atau jalan pemikiran.

Ideologi secara teknis mempunyai dua makna, yang salah satunya mempunyai makna lebih umum dari yang lain, makna pertama yang lebih umum yaitu sistem pemikiran dan akidah secara mutlak, yang meliputi pemikiran teoritis (nazhari )[1]; yaitu pemikiran sebagai penjelas dari realitas luaran yang tidak berhubungan langsung dengan perbuatan dan perilaku manusia. Ia juga meliputi pemikiran praktis (’amali) yaitu pemikiran yang berhubungan langsung dengan perbuatan manusia, yang berkaitan dengan “seharusnya” (bâyad, must) dan “tidak seharusnya” (nabâyad, must not). Makna yang kedua adalah makna yang lebih khusus. Makna ini terkhusus pada sistem pemikiran yang menentukan bentuk prilaku manusia, atau dalam kata lain kata Ideologi digunakan sebagai bandingan dari terma “Pandangan Dunia”, makna inilah yang dimaksud dengan makna yang khusus, sebab “Pandangan Dunia”[2] adalah pandangan universal terhadap segala eksistensi yang ada.

Pandangan dunia hanya membentuk pemikiran teoritis (nazhari). Berbeda dengan ideologi yang membentuk satu mata-rantai pemikiran praktis (amali), yang menata dan mendesain seluruh perilaku manusia. Oleh karena itu percaya kepada wujud Tuhan merupakan bagian dari pandangan dunia, karena secara langsung tidak mempunyai pengaruh dalam perilaku dan aksi dalam kehidupan manusia, dan pemahaman tersebut tidak berkaitan dengan “seharusnya” dan “ tidak seharusnya”, kecuali jika ideologi dalam makna yang lebih umum kita gunakan, maka hal itu akan meniscayakan tautan “seharusnya dan “tidak seharusnya”. Oleh karena itu, kepercayaan bahwa “Tuhan harus disembah” tidak termasuk bagian dari pandangan dunia, tapi bagian dari ideologi, karena pemahaman tersebut berkaitan dengan “seharusnya” dan “tidak-seharusnya”, atau dalam kata lain berkaitan dengan perilaku, aksi dan perbuatan manusia.

Kebutuhan Ideologi Dan Pandangan Dunia
Kehidupan manusia – dapat dikatakan – memiliki karekteristik insaniyah jika bersandar pada ideologi dan pandangan dunia yang benar, untuk membuktikan hal ini, kita harus mampu membedakan secara mendasar antara kehidupan manusia dan hewan-hewan yang lain. Sepanjang pengetahuan manusia, bahwa kehidupan seluruh hewan diatur oleh insting, misalnya, burung burung – atas dorongan insting mereka- memiliki keinginan untuk membuat sarang, berpasangan dan bertelur, dan setelah itu mereka mengerami telurnya hingga menetas, kemudian ia memberikan makanan pada anak-anaknya, hingga anak-anak mereka siap untuk terbang, dan termasuk mengajarkan anak-anaknya untuk dapat terbang tinggi. Burung-burung petelur tak akan pernah berkeinginan untuk melahirkan, atau berpikir membuat sarang di bawah tanah atau dalam lautan. Begitu juga setiap dari binatang menyusui, binatang melata dan hewan-hewan laut mempunyai insting tertentu yang menentukan bentuk khusus kehidupan mereka.

Berbeda dengan manusia, walaupun ia mempunyai insting seperti makan, bertahan untuk hidup (struggle for life) dan seksual, namun kehidupannya bukan hanya diatur oleh faktor-faktor insting tersebut, akan tetapi diatur oleh faktor utama yang disebut sebagai akal. Bahkan insting manusia pun dikontrol oleh akal. Begitu pula dengan iradah manusia, melalui pertolongan petunjuk-petunjuk akal ia mendapatkan perwujudannya. Oleh karena itu, kehendak manusia memerlukan motivasi akal.

Namun, dengan potensi ikhtiar manusia, mungkin saja ia menolak apa yang dikehendaki oleh akal, dan kemudian mengikuti keinginan instingnya, tapi jika hal ini terjadi, maka kehidupan yang ia jalani tidak lagi bercorak insani, tapi hewani. Dengan demikian, agar kehidupan kita secara hakiki benar-benar ingin disebut sebagai kehidupan insani, kita harus memahami, apa yang sedang kita kerjakan? Dan untuk apa? Dan apakah perbuatan ini-itu harus kita kerjakan atau tidak? Kemudian, jika kita telah mengambil keputusan bahwa perbuatan tersebut “harus” kita lakukan, maka dengan metode apakah perbuatan tersebut “harus” kita lakukan yang “seharusnya” kita lakukan dan dengan metode apa kita tunaikan “keharusan” tersebut. Logika “Seharusnya” dan “tidak seharusnya”, mungkin saja berhubungan dengan taktik atau rencana strategis, namun pada akhirnya akan bersandar pada satu “keharusan-keharusan” yang lebih universal dan lebih prinsip, yang akan membentuk bingkai dasar perilaku kita, atau dalam bahasa lain, akan membentuk ideologi kita. Atas dasar inilah terbukti bahwa kita harus memiliki ideologi yang benar.

Hukum-hukum akal praktis (‘amali), bergantung pada hukum-hukum akal nazhari (akan dijelaskan pada pembahasan Epistemologi). Misal yang dapat disebutkan untuk hukum akal praktis (‘amali) adalah bahwa “Tuhan harus disembah” ia bersandar pada hukum nazari, yaitu bahwa “Tuhanlah pencipta alam manusia dan seluruh wujud-wujud mumkin, selama hal ini belum terbukti, maka tak ada tempat untuk menetapkan hukum praktis (‘amali), sebab itu, prioritas pertama adalah keharusan memiliki pandangan dunia yang benar, hingga kita dapat membangun ideologi yang benar berdasarkan pandangan dunia tersebut.

Hubungan Ideologi dan Pandangan Dunia
Pertanyaan yang mengemuka dalam pembahasan ini adalah apakah Ideologi dan pandangan dunia mempunyai hubungan atau tidak? Dan jika ada, bagaimanakah bentuk hubungannya? Jawaban teknis dan terperinci atas pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan beberapa pendahuluan, lantaran penguraian pendahuluan tersebut akan memakan waktu yang panjang, ruang dan waktu dalam pembahasan ini membatasi kita untuk membicarakannya di sini. Namun kami akan berusaha untuk menjawabnya dalam bentuk yang ringkas dan sederhana.

Dalam masalah ini, terdapat beberapa pandangan. Pertama, sebuah pandangan yang meyakini bahwa pandangan dunia dengan sendirinya akan memunculkan ideologi tertentu, dan perbedaan Ideologi-ideologi yang ada disebabkan karena perbedaan pandangan dunia (world view, weltanschauung). Kedua, sebuah pandangan yang meyakini bahwa ideologi tidak mempunyai hubungan dengan pandangan dunia sama sekali, sebuah pandangan dunia bisa menerima ideologi yang berbeda-beda, persis seperti perbedaan keinginan masyarakat dalam memilih baju yang sama sekali tidak kaitannya dengan pandangan dunia yang mereka anut.

Menurut hemat kami, tak satupun dari dua pandangan di atas yang benar. Kami meyakini bahwa antara ideologi dan pandangan dunia, keduanya mempunyai hubungan, namun hubungannya tidak seperti hubungan antara “sebab sempurna (illat tammah)” dan akibatnya, dan antara syarat sempurna (syarth) dengan yang disyaratkan (masyruth), akan tetapi mempunyai hubungan seperti hubungan antara “sebab tidak sempurna” (illat naqish) dan akibatnya, dan hubungan syarat wajib (lazim) dengan yang disyaratkan, artinya bahwa sebuah ideologi butuh pada pandangan dunia, akan tetapi pandangan dunia saja tidak cukup, yang dengan sendirinya akan membentuk sebuah ideologi, akan tetapi harus ada pendahuluan yang lain yang bergabung dengannya, yang kemudian akan memunculkan ideologi tertentu.

Oleh karena itu, jika pandangan dunianya benar, kemudian pendahuluan yang akan kita gabungkan dengannya juga benar, dan menyusun antara pendahuluan dan kesimpulan juga benar, kemudian tidak terjadi fallacy di antaranya, maka kita pun akan mendapatkan ideologi yang benar. Misalnya premis “Tuhan itu ada”, dengan premis ini tidak bisa ditarik konklusi bahwa “Tuhan harus disembah”, namun tanpa premis pertama, premis kedua pun tak dapat dibuktikan.

Dari sini, ada satu hal yang kami ingatkan bahwa pembicaraan mengenai hubungan antara ideologi dan pandangan dunia, bahwa ideologi bermakna sebuah pemikiran praktis (‘amali) yang memiliki keserasian dan keharmonisan internal, dan demikian juga dengan pandangan dunia yang bermakna suatu sistem pemikiran teoritis yang memiliki keserasian dan keharmonisan internal.

Oleh sebab itu, ideologi-Ideologi dan pandangan-pandangan dunia yang tidak mempunyai keserasian internal di dalamnya, sulit untuk kita terima, dikarenakan tidak adanya hubungan yang logis antara ideologi dan pandangan dunianya.

Ideologi dan Pandangan Dunia dalam al-Qur’an
Banyak ayat dalam al-quran yang membuktikan betapa pentingnya ideologi dan pandangan dunia, bahkan Kitab Suci menegaskan bahwa mereka yang tidak mempunyai ideologi dan pandangan dunia yang benar adalah orang yang tersesat bahkan mempunyai derajat yang lebih rendah dari binatang, seperti pada ayat 55 surah al-Anfal “Innâ syarruddawwabi ‘indalLâhi alladzina kafaru fahum la yu’minun”, yaitu seburuk- buruknya hewan melata di sisi Tuhan adalah mereka yang kafir dan tidak beriman, dan dalam ayat 22 juga dalam surah yang sama “Innâ syarruddawwabi ‘indallahi shummmulbukmu allazina la ya’qilun”, yaitu seburuk-buruknya buruknya hewan melata di sisi Tuhan adalah mereka yang bisu dan tuli ( telinga mereka tuli dari mendengarkan hak, mulut mereka bisu dari perkataan hak) dan mereka tidak menggunakan akal mereka, hinga mereka tak dapat memahami hak, dan pada ayat 179 dari surat al-A’raf “ walaqad zara’na lijahannama katsiran minal jinni wal insi lahum qulubun la la yafqahuna biha walahum ‘ayunun la yubshiruna biha wa lahum adzanun la yasma’una biha ulaika kalan’am balhum adhallun ulaika humul ghafilun”, mereka yang memiliki akal, mata, dan telinga, tidak menggunakannya dalam jalan mengenal hak,mereka seperti binatang bahkan lebih rendah, mereka lalai (tidak punya kesadaran “sebagaimana harusnya”), dalam sebuah hadis juga diisyaratkan masalah ini: rahimallahu imraan ‘arafa nafsahu,wa ‘alima min aina wa fi aina wa ila aina, (Rahmat Tuhan ke atas mereka yang mengetahui dirinya, dari mana ia berasal dan dimana, dan akan menuju ke mana).

Jika orang menginginkan benar-benar dirinya sebagia mausia hakiki, maka ia harus berpikir dari mana ia bermula (mabda ), dan sekarang ia berada dimana, dan akan kemana tujuannya dan tahu apa yang harus ia lakukan, hingga mendapatkan kebahagiaan, hal ini menyiratkan bahwa manusia harus mempunyai pandangan dunia dan ideologi yang benar.

Oleh karena itu, nilai manusia dalam pandangan Qur’an bergantung pada ideologi dan pandangan dunianya, maksud bahwa mereka yang dengan menggunakan pemikiran dengan pengaplikasian kekuatan-kekuatan persepsinya (idrak), dan kemudian memperoleh pandangan dunia dan ideologi yang benar, serta menjadikannya sebagai dasar kebebasannya, maka tiba gilirannya untuk ia dapat disebut sebagai Mukmin. Artinya ia telah memberi makna positif dalam kehidupannya. Dan mereka yang memiliki pandangan yang pendek atau kekuatan persepsinya tak mampu menemukan ideologi yang benar, dalam kondisi seperti ini, ia tidak dapat disebut sebagai Mukmin, ia hanya bisa disebut sebagai mustadhaf (orang yang lemah).

Namun bagi mereka yang mencegah dirinya untuk berpikir dan menjauhi kekuatan-kekuatan idrak-nya dalam usaha mencari ideologi dan pandangan dunia yang benar, atau dalam kondisi fanatisme dan motivasi-motivasi yang lain, maka dalam posisi seperti ini, ia disebut sebagai kafir, artinya ia telah memberi makna negatif dalam kehidupannya.

Masalah-Masalah Fundamental Pandangan Dunia
Terdapat beberapa perbedaan dan persoalan dalam membahas pandangan dunia, baik dalam sisi nilai, maupun dalam menjelaskan sisi manakah yang lebih dahulu di antara keduanya, termasuk menjelaskan dasar konsepnya. Tentunya, masalah-masalah fundamental adalah masalah yang mendapat prioritas khusus untuk dibahas. Juga karena pembahasan ini “memiliki nilai yang luar biasa”. Oleh sebab itu, ada tiga persoalan yang paling mendasar yang akan kami bahas :

  • Ontologi
  • Antropologi
  • Teleologi

Dalam pembahasan ontologi, kami akan mencoba membahasnya hinga kita mendapatkan sebuah pandangan universal tentang alam, dan menjelaskan apakah existensi sama dengan materi termasuk berbagai phenomenanya. Ataukah alam materi hanya bagian dari keberadaan alam? Jika ia, apakah alam materi dengan alam methafisik mempunyai hubungan atau tidak?, jika terdapat hubungan, bagaimana hubungan di antaranya ? pemecahan masalah ini berkaitan dengan pembahasan theologi (tauhid).

Dalam pembahasan Anthropologi, akan di jelaskan masalah hakikat manusia , apakah manusia hanya terdiri dari badan yang kita indrai ini, atau juga memiliki ruh yang non-materi yang tidak dapat di indrai, jika memiliki ruh, apakah setelah mati dimana badan menjadi hancur, ruh masih tetap ada atau tidak? Dan apakah mungkin manusia hidup lagi atau tidak? Dan apakah akhir kehidupan manusia terbatas ataukah abadi?dan apakah antara dua kehidupannya, punya hubungan atau tidak ? semua masalah ini berkaitan dalam pembahasan “hari akhir” (ma’âd ).

Dan akhirnya pada bagian ketiga, hal yang akan di perbincangkan dalam masalah ini bahwa awal dan akhir manusia memiliki keterikatan, dan menjelaskan bahwa Tuhan mengarahkan manusia pada kebahagiaan yang abadi, dalam menyelesaikan pemecahan masalah ini, kami menyimpulkan bahwa untuk mengetahui rencana yang benar kehidupan individu dan sosial, terdapat jalan yang telah terjamin, dan bagi para pengikutnya bukan hanya kebahagiaan duniawi, terbatas serta sementara yang ia peroleh. bahkan kebahagiaan abadi dan kekalpun ia peroleh, dan jalan yang dimaksudkan adalah “wahyu”, dari sisi Tuhan yang diberikan pada Nabi, dan melaluinya dapat di peroleh khabar yang telah lalu.

Sebagaimana dalam pembahasan tentang “awal” dan “akhir”, “manusia”,”tauhid” dan “ma’ad” satu sama lain saling memiliki keterikatan, begitupun dengan masalah ideologi dan pandangan dunia, terdapat rangkain masalah yang saling berhubungan, artinya bahwa dalam naungan masalah inilah (masalah nubuwwah) kita dapat menyelesaiakan masalah ideology tersebut secara terjamin, dan kita dapat mengetahui program hidup yang benar itu sendiri, sebuah program kehidupan yang menyiapkan kebahagian kita, baik dunia maupun di hari akhir.

Dengan demikian jelaslah, mengapa masalah ini (tauhid,nubuwwah dan ma’ad) dikenal sebagai “ushuluddin” yaitu sebagai dasar Ideologi Islam, termasuk hubungan logis di antara keduanya. Kami ingin mengingatkan bahwa “keadilan” cabang dari masalah tauhid, dan Imamah cabang dari masalah nubuwwah, dan untuk membedakan Akidah Syi’ah dengan mazhab kalam yang lain, kita menyebutnya sebagai “ushul mazhab” . Dengan penjelasan ini, telah jelas pulalah bahwa masalah ini merupakan fondasi yang paling dasar, karenanya inilah apa yang kita maksud dengan “memiliki nilai yang luar biasa”, disebabkan karena masalah ini menjamin kehidupan yang tak terbatas bagi manusia,dari hal ini, tak satupun ilmu yang dapat dibandingkan dengannya dari sisi nilai.

Mungkin dikatakan, masalah – masalah ini akan mempunyai nilai buat kita, jika dari “awal” ( tauhid ) kita meyakininya, hinga kita sampai pada kesimpulan positif. Akan tetapi, bagi mereka yang tak mempunyai keyakinan dalam memecahkannya, mungkin lebih memilih untuk pergi mencari ilmu, dimana kesimpulan kesimpulannya mempunyai keyakinan yang lebih pasti, sehingga umur kita tidak dihabiskan dalam menyelidiki masalah. Akan tetapi, harus diketahui bahwa nilai probabiliti, tidak hanya mengikuti “persen”nya, tapi juga bergantung pada faktor faktor yang lain, dan factor tersebut adalah kuantitas sesuatu yang dimugkinkan dan hasil perkalian probability persen dalam jumlah yang dimungkinkan, yang mana turut menentukan nilai probability.

misalnya, jika kita membuat pemisalan, bahwa probabilitas laba dalam sebuah produksi 20 % dan dalam produksi yang lain 10 %, akan tetapi kita tahu, bahwa produksi yang kedua memberikan laba dimana labanya 10 kali lipat dari produksi yang pertama, dalam pemisalan seperti ini tidak cukup kita mengambil pertimbangan, hanya dalam persen kemungkinannya hingga kita katakan bahwa nilai probabilitas dalam produksi pertama lebih banyak, dan prosentase kemungkinan yang pertama dua kali lipat dengan yang kedua, tapi kita harus melihat prosentase probabilitasnya dalam quantitas laba yang di mungkinkan, hasilnya kita akan melihat, nilai probabilitas laba dalam produksi yang ke dua lima kali lipat dengan produkdi yang pertama yaitu 10 x 10% lima kali lipat dari hasil 1 kali 20 %.

Dari pemisalan yang kita buat diatas, kita juga dapat menilai masalah masalah pondasi pandangan dunia, artinya kita harus mengalikan persen probabilitas sampainya pada kesimpulan yang pasti dalam kuantitas probabilitinya, dan karena kuantitas probabilitasnya tak terhinga, maka sekecil apapun jumlah persen probabilitinya ( 1/n) hasilnya pun akan menjadi tak terhingga.
~ x 1/n = ~
kesimpulannya, walaupun sejak awal kita meyakini bahwa kemungkinan sampai pada “kesimpulan yang pasti” sangat lemah, tetap tidak akan pernah mengurangi nilainya. Sebab walaupun Nilainya adalah probabilitasnya yang sangat kecil itu sendiri, namun dari nilai pribabilitas persen dalam seluruh masalah lebih banyak. karena probabilitas kuantitasnya tak terhingga, seperti kebahagiaan abadi manusia, yang mana hasil dari perkalian yang tak terhingga, sekecil apapun yang kita asumsikan, tetap akan memberikan nilai yang tak terhingga. [ http://www.wisdoms4all.com/ind ]

_____________________________________________
[1] Harus diperhatikan bahwa kata nazari merupakan kata equivokal (musytarak lafzi), dimana terkadang kata tersebut digunakan dalam berlawanan dengan persepsi badihi, maksudnya adalah persepsi– persepi yang harus dibuktikan melalui perantara dalil atau argumentasi. Dan terkadang juga kata tersebut digunakan dalam berlawanan dengan persepsi-persepsi praktis, maksudya adalah persepsi-persepsi yang tidak secara langsung memberikan efek dalam perbuatan manusia, dan nazhari yang kami maksud dalam tulisan ini adalah makna yang kedua.

[2] Harus diperhatikan bahwa pandangan dunia secara istilah berbeda dengan kosmologi. Salah satu perbedaan di antaranya bahwa kosmologi tidak meliputi bidang teologi dan antropologi, namun pandangan dunia meliputi Tuhan, manusia dan semesta.

Tinggalkan komentar

Filed under Article, Epistemology, Philosophy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s