Menolong Kaum Tertindas*

Ayat Al-Qurán telah mengatakan bahwa legalitas jihad dalam bentuk muqayyad (bersyarat). Apa persyaratannya? Ketentuannya adalah jika pihak lawan melakukan pelanggaran dan melakukan tindakan menyerang. Karena musuh memerangi kalian, maka kalian juga memerangi musuh. Apakah syarat tersebut hanya terbatas pada ketika pihak lawan memerangi kalian? Apakah ada hal lain? Misalnya ketika satu kelompok tidak ingin berperang dengan muslimin tetapi mereka telah menebarkan kezaliman terhadap sekelompok manusia, dan kita memiliki kekuatan untuk menyelamatkan kelompok yang mengalami penindasan tersebut. Dimana jika kita tidak memberi pertolongan sama artinya dengan menolong penindas dalam melakukan kezalimannya. 

Kita ada pada kondisi ketika tidak ada yang melakukan pelanggaran terhadap kita, tetapi ada sekelompok orang yang mungkin saja kaum muslimin atau selainnya (Jika kaum muslimin, dapat dilihat pada peristiwa yang terjadi di Palestina yang telah diusir dari tanahnya serta dirampas hartanya oleh bangsa Israel. Telah terjadi berbagai kezaliman terhadap rakyat Palestina, tetapi pada kesempatan ini kita tidak akan membahas tentang hal tersebut). Apakah kita memiliki keabsahan untuk bangkit menolong dan membebaskan kaum muslimin yang tertindas?

Tindakan ini bukan hanya sebuah kebolehan, bahkan merupakan kewajiban. Ini bukan hal yang sederhana. Ini merupakan tindakan yang didasari atas kesadaran untuk menolong orang yang tertindas dengan segera. Kebangkitan untuk membebaskan mereka dari pelaku kezaliman, terutama ketika yang tertindas adalah kaum muslimin.

Menentang Pembungkaman
Jika orang tertindas bukan dari kaum muslimin, maka ada dua keadaan yang mungkin terjadi. Kondisi pertama adalah ketika pelaku kezaliman menguasai kelompok tersebut sehingga menghalangi aktivitas dakwah Islam. Islam merupakan agama yang membolehkan ajarannya untuk disebarkan ke seluruh dunia dan upaya penyebaran tersebut membutuhkan kebebasan.

Sebagai contoh, jika sebuah negara yang menjadi penghalang upaya kaum muslimin untuk menyampaikan suaranya kepada masyarakant banyak. Negara tersebut tidak memberi hak kepada anda untuk berbicara, bahkan tidak mengizinkanya. Maka, pada kondisi ini tidak diperbolehkan untuk memerangi masyarakat banyak tersebut. Karena mereka tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa. Tetapi, bolehkah berperang dengan rezim fasik yang telah bersandar pada keyakinan keji secara terselubung?. Rezim yang telah memanfaatkan hal tersebut seperti rantai yang dikalungkan pada leher rakyat dan menjadi penghalang penyebaran ajaran Islam. Adakah keabsahan melakukan perlawanan terhadap kondisi yang mencekik ini? Islam membenarkan tindakan ini karena merupakan satu bentuk dari kebangkitan menentang kezaliman. Meskipun rakyat tidak menyadari kezaliman yang menimpa mereka dan tidak meminta pertolongan, tetapi tidak perlu menunggu sampai mereka meminta bantuan.

Perlukah Permohonan Bantuan?
Perihal permohonan bantuan memerlukan pembahasan tersendiri. Artinya adalah apakah ketika ada permohonan bantuan, maka tindakan memberi bantuan menjadi keharusan atau kebolehan? Atau meskipun tanpa ada permohonan bantuan, tindakan kita diperbolehkan bahkan menjadi kewajiban? Jawabannya adalah permohonan banatuan tidak menjadi persyaratan dalam hal ini. Cukup ketika ada kelompok yang tertindas dan penindasan itu menjadi penghalang terhadap kesuksesan mereka serta menjadi panghalang atas penyampaian ajaran yang menghantarkan kelompok tersebut pada kemenangan. Dimana jika kelompok tersebut bangun dan tersadar maka mereka akan menerima ajaran tersebut. Pada situasi seperti ini Islam menyatakan bahwa diperbolehkan menghilangkan penghalang yang berbentuk negara dihadapan rakyat.

Peperangan Pada Masa Awal Islam
Sebagian besar peperangan yang terjadi pada mas awal Islam adalah peperangan yang berbentuk seperti ini. Kaum muslimin yang berperang berkata demikian: “Kami tidak berperang dengan rakyat banyak, kami berperang dengan penguasa untuk membebaskan rakyat dari kehinaan dan perbudakan penguasa”. Seseorang bertanya kepada bangsa Arab Muslim apa tujuannya, dan dijawab: لنخرج العباد من عبادة الئ عبادة اللة. Tujuan kami adalah untuk mengeluarkan hamba-hamba Tuhan yang telah kalian seret menjadi budak kalian melalui jalan kekerasan ataupun tipu daya yang melenakan. Kami akan membebaskan mereka dan membawanya pada penghambaan terhadap Allah Swt dan menghamba terhadap penciptanya, bukan menjadi budak manusia-manusia seperti kalian.

Surat yang ditulis oleh Rasulullah Saww terhadap Ahli Kitab secara khusus mengandung ayat Al-Qurán yang berbunyi: بينكم الا نعبد الا اللة ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضا اربابا من دون الله قل يا اهل الكتاب تعالوا الئ كلمة سواء بيننا Ajaklah Ahli kitab (Ahli Kitab yang kita diperintahkan untuk memeranginya) kepada kalimat yang satu, yang terdapat kesamaan diantara kami dan kalian. (Surah Ali Imran: 64). Pada ayat tersebut tidak dinyatakan untuk menerima kalimat yang menguntungkan kami serta hanya berhubungan dengan kami saja. Tetapi dalam ayat disebutkan untuk menerima sesuatu yang bermanfaat bagi semua dan berhubungan dengan dengan semua pula.

Pada satu kesempatan kita mengajak orang-orang untuk menerima apa yang kita katakan. Tentunya mereka berhak mempertanyakan alasannya. Karena bukan hanya kita yang memiliki pemikiran, tetapi mereka juga demikian. Maka, mengapa harus perkataan kita yang harus didengarkan? Mungkin jika kita katakan bahwa kalian harus menerima adat-istiadat yang kita miliki, mereka akan bertanya: “Mengapa kami harus menerima adat-istiadat kalian? Tetapi jika pada satu kesempatan mereka diajak untuk menerima sesuatu yang bukan milik kita atau milik mereka saja, bahkan milik semua yaitu Tuhan. Tuhan yang kita semua harus mengakuinya. Makah hal ini bukan lagi berhubungan dengan keperluan kita saja, tetapi kita menyembah Tuhan yang menciptakan semua. Hal hubungannya dengan kita dan mereka dalam posisi yang sama. Allah Swt berfirman: تعالوا الئ كلمة سواء بيننا وبينكم. Kita tidak akan menyembah selain Allah Swt yang telah menciptakan kita semua. Satu kalimat lagi yang terdapat dalam ayat tersebut yang juga kedudukannya sama antara kami dengan kalian adalah:ولا يتخذ بعضا اربابا من دون الله . Artinya janganlah kita menjadikan dan memilih sebagian kelompok sebagai sembahan bagi kita. Bahwa sistem tuan dan budak harus dirubah menjadi sistem yang mengakui kesamaan setiap individu. Ayat ini menjelaskan bahwa saya berperang bukan untuk diri sendiri. Saya berperang untuk sesuatu yang kedudukannya sama pada setiap orang.

Bahasan diatas merupakan sebuah pengantar yang menjelaskan bahwa salah satu dari prasyarat yang dapat mengantarkan mutlak menjadi muqayyad. Yaitu jika masyarakat berada dibawah kezaliman satu golongan dan mereka tepuruk didalamnya. Maka berperang untuk membebaskan orang-orang tersebut merupakan hal yang diperbolehkan.

Sekarang kita akan membahas dua ayat lagi dari Al-Qur’an yang berkaitan. Pertama adalah ayat 39 surat Al-Anfal yang berbunyi: وقاتلوهم حتئ لا تكون فتنة و يكون الدين كله لله . Perangilah mereka hingga terhapus fitnah. Apakah maksud dari fitnah? Yaitu Perangilah mereka yang menimbulkan fitnah diantara kalian dan hendak mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya, sampai fitnah tersebut terhapus. Hal ini juga merupakan prasyarat. Sedangkan prasyarat lainnya adalah ayat 75 surat An-Nisa: ما لكم لا تقاتلون في سبيالله و المستضعفين من الرجل والنساء و الولدن . Wahai kaum Muslimin! Mengapa kalian tidak berperang di jalan Allah Swt untuk membebaskan laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang tertindas?

Mengaitkan Mutlak Dengan Muqayyad
Lima ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan sebelumnya menunjukkan bahwa aturan Islam berkaitan dengan peperangan pada sebaian ayat bersifat mutlak, dan sebagian lainnya muqayyad. Pada kaidah-kaidah penting Ushul (fiqh) dan Urf (pendapat umum), mutlak harus dikaitakan pada muqayyad.

Beberapa rangkaian ayat Al-Qur’an menjelaskan bahwa upaya tabligh harus dengan cara yang benar, bukan dengan cara paksaan. Hal ini juga mengemukakan bahwa pandangan Islam bukanlah memaksa orang-orang untuk memeluk agama Islam dan akan membunuhnya jika tidak menerima. Ayat ini dalam bentuk lain juga menjelaskan mafhum (konsekwensi tidak tertulis) dari ayat-ayat yang bersifat mutlak.

Tidak Ada Paksaan Dalam Agama
Satu kalimat yang merupakan bagian dari ayat Kursi: لا اكره فى الدين قد تبين الرشد من الغئ. Tidak ada paksaan dalam urusan agama, telah jelas jalan kebenaran dari kebatilan. Artinya adalah anda harus menjelaskan jalan sebagai pilihan kepada masyarakat dimana kebenaran dengan sendirinya akan menjadi jelas. Dalam urusan aga tidak boleh ada pemaksaan, berarti tidak seorangpun diperbolehkan untuk melakukan pemaksaan dalam memilih agama Islam. Ayat ini jelas dan merupakan pernyataan. Dalam tafsir tertulis ayat ini berhubungan dengan seorang laki-laki Anshar yang sebelumnya menyembah berhala. Dia memiliki dua anak laki-laki beragama Nasrani yang sebelumnya mereka memioiki kecenderungan terhadap agama itu. Sang ayah yang telah menjadi Muslim sangat tidak senang atas agama kedua putranya. Dia mendatangi Rasulullah Saww dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa yang harus aku lakukan terhadap anakku yang menganut agama Nasrani. Mereka tidak juga menerima Islam meskipun aku telah melakukan berbagai hal. Apakah anda mengizinkan aku memaksa mereka untuk keluar dari agamanya dan kemudian menerima Islam? Rasulullah Saww menjawab: “لا اكره فى الدين”.

Pada Asbabun Nuzul (peristiwa yang berkaitan dengan turunnya ayat) ayat ini tertulis bahwa di Madinah terdapat dua kabilah Aus dan Khazraj yang bermukim di kota tersebut. Mereka merupakan penduduk asli dari kota Madinah. Mereka hidup berdampingan dengan beberapa kabilah dari kaum Yahudi yang antara lain bernama Kabilah Bani Nadhir, Kabilah Bani Quraizah, dan beberapa kabilah lainnya.

Kaum Yahudi memiliki mazhab Yahud yang memiliki kitab suci Langit dan banyak orang yang berilmu diantara mereka. Sebaliknnya penduduk asli Madinah dulunya penyembah berhala dan tidak memiliki orang yang berilmu diantara mereka, kemudian beberapa waktu belakangan mulai terdapat beberapa orang yang berilmu. Kaum Yahudi yang bisa dikatakan memiliki tingkatan pemikiran lebih tinggi memiliki pengaruh di kalangan mereka. Mazhab yang dimiliki kaum Aus dan Khazraj dibawah pengaruh keyakinan mazhab Yahudi. Kadang-kadang kedua kaum tersebut mengirim anak-anak mereka untuk belajar kepada Yahudi, lalu akhirnya anak-anak tersebut meninggalkan kepercayaan menyembah berhala dan mengikuti mazhab Yahudi.

Ketika Rasulullah Saww berhijrah ke kota Madinah, sebagian anak-anak yang telah memilih mazhab Yahudi tetap mempertahankan mazhab pilihannya. Padahal orang tua mereka telah memeluk ajaran Islam. Ketika ditetapkan bahwa Yahudi harus keluar dari kota Madinah, maka anak-anak tersebut juga ikut dengan kaum Yahudi. Orang tua meminta izin dari Rasulullah untuk memisahkan anak-anak mereka dari kaum Yahudi dan memaksanya meninggalkan ajaran Yahudi untuk kemudian memeluk ajaran Islam. Tetapi Rasulullah Saww tidak memberi izin. Mereka berkata: “ Ya Rasulullah! Izinkan kami untuk memaksa anak-anak kami meninggalkan ajaran Yahudi dan menjadikan mereka muslim”. Rasulullah Saww menjawab: “Tidak. Mereka telah memilih. Maka biarkan mereka pergi bersama kaum Yahudi”. Lalu disebutkan ayat yang demikian ini turun: لا اكره فى الدين قد تبين الرشد من الغئ .

Ayat lainnya yang juga cukup dikenal berbunyi: ادع الى سبيل ربك بالحكمة و اوعظة الحسنة و جادلهم بالتى هى احسنلم. Ajaklah mereka kepada Tuhanmu!Dengan cara yang bagaimana? Apakah dengan paksaan? Atau menggunakan pedang? Tidak, tetapi dengan kata-kata yang bijak, menggunakan logika dan argumen yang rasional, juga dengan nasehat yang baik. و جادلهم بالتى هى احسن. Meskipun mendebat kalian, kalian harus melakukan perdebatan dengan cara yang baik. Ayat ini memperkenalkan secara jelas cara menyebarkan dan membawa ajaran Islam.

Pada ayat lain dalam Al-Qur’an: و قل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر Siapa yang hendak beriman, maka mereka akan beriman. Sedangkan bagi mereka yang tidak mau beriman, mereka disebut kafir dan akan hidup sebagai orang kafir. Bisa disimpulkan bahwa ayat ini juga mengatakan bahwa iman dan kekafiran merupakan pilihan dan bukan paksaan. Islam tidak menganjurkan pemaksaan dalam menjadikan orang-orang sebagai muslim. Jika mereka menjadi muslim, tentunya sebuah kebaikan dan jika mereka belum menjadi muslim, bunuhlah mereka. Tidak demikian, tetapi Islam mengatakan semua orang bebas menentukan pilihan. Siapa yang hendak beriman, maka dia akan beriman dan sebaliknya.

Ayat lain:لو شاء ربك لأمن من فى الأرض كلهم جميعا افأنت تكره الناس حتى يكونوا مؤمن. Menyeru kepada Nabi Saww yang sangat berkeinginan agar manusia menjadi mukmin. Al-Qur’an mengatakan pemaksaan dalam hal iman tidak ada artinya. Jika paksaan merupakan hal yang benar, Tuhan mampu memaksa seluruh manusia untuk menjadi mukmin dengan kehendak takwini. Tetapi iman merupakan hal yang harus dipilih oleh manusia. Karena itu Tuhan tidak memaksa manusia untuk beriman dengan kehendak takwini-Nya, bahkan Tuhan membebaskan manusia untuk dapat memilih. Wahai Nabi! Engkau pun harus membiarkan mereka bebas, maka siapa yang berkehendak dia akan beriman dan sebaliknya.

Ayat lain yang juga menyeru kepada Nabi Saww: لعلك باخع نفسك الا يكونوا مؤمنين . Wahai Nabi! Hampir saja engkau hendak membunuh diri karena mereka tidak beriman. Janganlah bersedih, sebab jika kami menginginkan bisa saja kami memaksa manusia beriman dengan kehendak takwini. Tetapi jalan kami terbuka dan mudah. . Jika kami berkehendak, kami akan menurunkan tanda-tanda dari langit berupa azab dan kami katakan kepada manusia bahwa mereka harus beriman atau azab tersebut akan memusnahkan mereka. Maka seluruh manusia akan terpaksa beriman. Tetapi kami tidak melakukan hal tersebut karena kami ingin manusia itu sendiri yang menentukan iman mereka.

Ayat ini kembali menjelaskan pandangan Islam tentang jihad. Tujuan Islam atas jihad bukan seperti yang dituduhkan oleh musuh yaitu Islam memaksakan orang kafir dengan menghunus pedang di atas kepalanya untuk beriman atau akan terbunuh.

Perdamaian dan Kesepakatan
Terdapat serangkaian ayat suci lainnya yang akan menjadi pembahasan. Secara umum Islam menganggap penting masalah perdamaian. Ayat:الصلح خير menjelaskan bahwa perdamaian merupakan hal yang terbaik. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa perdamaian bukan berarti tunduk dan menyerah dalam keadaan terhina. Pada ayat yang berbunyi: Wahai Rasulullah! Jika pihak musuh menginginkan perdamaian dan mereka menunjukkan perilaku yang demikian, maka bersiaplah untuk berdamai. Artinya jika mereka menginginkan perdamaian, maka engkau juga harus menghendakinya pula. Maka ayat ini juga menunjukkan bahwa ruh Islam adalah perdamaian.

Ayat lain yang terdapat pada surah At-Taubah: اعتزلوكم فلم يقتلوكم و القوا اليكم فان السلم فما جعل اللة لكم عليهم سبيلا. Wahai Nabi! Jika mereka menghindar dari peperangan dan tidak memerangi kalian dan menunjukkan perdamaian dan juga mengatakan kami bersedia berdamai dengan kalain, maka Allah tidak lagi mengizinkan mu untik melangkah maju dan berperang.

Pada tempat lain dalam Al-Qur’an menyebutkan tentang kaum munafik: فان وهم واقتلوهم حيث وجدتموهم ولا تتخذوا منهم وليا و لا نصيرا. الا الذين يصلون الى قوم بينكم و تولوا فخذ

بينهم ميثاق او جاؤوكم حضرت صدورهم ان يقاتلوكم او يقاتلوا قومهم (An_Nisa 89&90) . Jika kaum munafik yang berperang dengan kalian melarikan diri dari peprangan, kejarlah mereka dan bunuhlah mereka di manapun kalian menemui mereka, janganlah mengambil mereka sebagai teman atau menjadikan mereka sebagai penolong kalian. Kecuali mereka yang telah mengadakan perjanjian dengan kalian dan mereka bersedian bersekutu dengan kalian, maka janganlah kalian membunuh mereka. Demikian juga terhadap orang-orang yang telah lelah berperang dengan kalian, maka janganlah kalian memerangi mereka.

Secara singkat pada pembahasan ini ada empat kelompok ayat yang telah dikemukakan.

  • Kelompok pertama ayat-ayat yang secara mutlak mengatakan berperanglah. Dimana jika kita melihatnya tanpa mengaitkan dengan ayat-ayat lainnya yang terdapat dalam Al-Qur’an maka kita akan mengatakan bahwa Islam adalah agama perang.
  • Kelompok kedua merupakan ayat-ayat yang berisikan tentang peperangan dikaitkan dengan persyaratan misalnya jika mereka yang memerangi kalian, atau jika sekelompok kaum muslimin berada dalam cengkeraman mereka dimana kebebasan dan hak-hak mereka telah dipasung.
  • Kelompok ketiga adalah ayat-ayat yang secara jelas menyatakan bahwa ajakan kepada Islam bukan melalui paksaan.
  • Sedangkan kelompok ke-empat adalah ayat-ayat yang menyatakan bahwa Islam merupakan pendukung perdamaian secara jelas. [IM].

Tinggalkan komentar

Filed under Article

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s