Status Keamanan Israel Sebelum dan Sesudah Perang Gaza*

Oleh; Saleh Lapadi                                      akka

Berdasarkan kesepakatan Konferensi Annapolis tanggal 27 Desember 2008 tahap pertama operasi militer Rezim Zionis Israel dilakukan terhadap Jalur Gaza. Bila berhasil menghancurkan perlawanan Islam, jalur perundingan demi mendirikan dua negara dalam satu teritorial semakin terbuka. Proyek pembentukan dua negara sejatinya hanya draft tipuan agar orang menganggap akan ada dua negara Palestina dan Israel di bentangan geografis Palestina pendudukan. Padahal, berdasarkan agenda Annapolis rencananya di terotorial ini hanya ada satu negara Israel dengan dua pemerintah; Yahudi dan Islam-Kristen. Sejatinya petunjuk teknis Annapolis membentuk sebuah negara pemerintah kecil Islam-Kristen di bagian dari teritorial di bawah kekuasaan Israel.

Perang 27 Desember dimulai dengan tujuan menghapus muqawama dari perimbangan Palestina-Israel. Bukti-bukti menunjukkan bahwa Rezim Zionis Israel percaya dan mendoktrinkannya kepada masyarakat Zionis Israel bahwa dalam perang yang tidak lama, kira-kira 7 hingga 10 hari mereka dapat menghancurkan muqawamah atau melumpuhkan mereka hingga tidak lagi punya kemampuan menolak rencana Israel-Amerika yang digagas di Annapolis.

Dengan dasar ini militer Israel menyusun rencana operasi militernya dalam tiga tahap; serangan udara, darat tahap pertama dan darat tahap kedua. Mereka mematok waktu paling lama 4 hari untuk melakukan serangan udara dan setiap tahap operasi serangan darat ditetapkan masing-masing paling lama tiga hari. Tahap pertama serangan udara telah didisain sedemikian rupa dengan membombardir 300 titik di Gaza mampu membuat perlawanan bertekuk lutut dan mereka tinggal menangkapi anasir-anasir muqawama.

Ternyata operasi udara yang semula ditetapkan paling lama 4 hari molor hingga 7 hari. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Israel sendiri, 600 target strategis di Gaza berhasil dihancurkan dalam serangan udara tersebut. Namun hingga tanggal 2 Januari 2009 Kabinet Israel Knesset baru tahu kalau muqawama Hamas tidak mengalami kerugian berarti. Tembakan roket mereka tidak hanya terus berlanjut, tapi jangkauannya semakin lama semakin jauh. Poin penting yang tidak boleh dilupakan adalah Hamas dan para pejuang Palestina tidak hanya mampu menerapkan strategi perangnya dengan baik, mereka bahkan mampu mengatur masalah pengobatan dan penyaluran bantuan. Tidak nampak muncul kegelisahan atau kesulitan bagi mereka dalam mengurusi berbagai masalah ini sambil tetap fokus menghadapi serangan musuh.

Di hari Jumat itu Rezim Zionis Israel mulai putus asa, namun mereka terpaksa memutuskan untuk melanjutkan perang. Sementara Komandan Staf Gabungan Militer Zionis Israel Gabi Ashkenazi dan Menteri Pertahanan rezim ini Ehud Barak menyatakan keraguannya dapat memenangkan operasi serangan darat.

Serangan darat tahap pertama tetap dilakukan keesokan harinya tanggal 3 Januari dengan kekuatan 20.000 pasukan yang didukung oleh pelindung bergerak bernama Tank Merkava. Pasukan ini memulai serangan daratnya dari lima titik dengan jarak antara satu titik dengan lainnya sekitar 6 hingga 11 kilometer. Namun kembali lagi berbeda dengan gambaran dan informasi intelijen yang dimiliki Rezim Zionis Israel, kembali perang darat tahap pertama ini molor hingga 7 hari tanpa menghasilkan apa-apa.

Serangan darat Rezim Zionis Israel memang telah dinantikan oleh gerilyawan Palestina. Karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi serangan udara musuh. Dalam perang darat dengan penguasaan medan dan kelebihan karena perang dilakukan di daerah mereka, para pejuang Palestina berhasil membalikkan berbagai prediksi dan muncul sebagai pemenang. Dalam perang darat, semakin dekat tentara musuh mendekati tempat persembunyian para pejuang Palestina, kemungkinan untuk menghancurkan mereka semakin mudah.

Di hari ketiga perang darat (Senin, 5/01) Ehud Barak kepada Perdana Menteri Israel Ehud Olmert memberikan informasi bahwa tank-tank militer Israel tidak lagi mampu bergerak ke depan karena terhalang bangunan.. Namun Olmert, Menlu Israel Tzipi Livni dan sejumlah anggota kabinet tidak menerima argumentasi Menteri Pertahanannya sendiri.

Keesokannya harinya (Selasa, 6/01), militer Zionis Israel yang tahu bahwa tokoh-tokoh politik tidak peduli dengan kondisi yang dihadapi mereka akhirnya membom sebuah sekolah di kota Al-Fakhurah yang telah dijadikan sebagai tempat perlindungan bagi wanita dan anak-anak. Sekitar 40 orang gugur syahid dan seorang petugas PBB termasuk korbannya. Serangan ini sontak mengingatkan masyarakat internasional mengenai serangan militer Israel ke desa Qana yang menewaskan wanita dan anak-anak dalam Perang 33 Hari di Lebanon. Serangan yang dilakukan itu juga punya motif yang sama, karena dilakukan saat mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi, sementara para pejabat Amerika tidak mau tahu dan memerintah mereka untuk tetap melanjutkan perang.

Hari Rabu (7/01) kabinet Rezim Zionis Israel menerima argumentasi Ehud Barak untuk mundur dari Gaza dan mengumumkan gencatan senjata, namun pada saat yang sama menegaskan untuk tetap melakukan operasi militer ke daerah Gaza dan Khan Younis, sambil tetap melakukan upaya politik demi terciptanya gencatan senjata. Targetnya jelas. Zionis Israel berusaha mengusai sebidang tanah Jalur Gaza atau menangkap tokoh utama muqawama untuk memenangkan tawar menawar politiknya. Kabinet Israel akhirnya mengutus satu delegasi yang terdiri dari pejabat tinggi ke Mesir menghadiri perundingan “Rencana Mesir-Perancis”.

Namun sehari setelah itu (Kamis, 8/01) ternyata kabinet Israel mengambil langkah mundur dari sikap sebelumnya yang menolak gencatan senjata. Sekaitan dengan masalah ini Condoleezza Rice mengeluarkan pernyataan, “Kami percaya gencatan senjata kini harus dilakukan”. Hari itu juga Washington Post menulis, Hamas berhasil membuktikan kepada dunia mampu melanjutkan perjuangan.

Hari Kamis malam, Dewan Keamanan PBB meratifikasi Resolusi bernomor 1860 yang isinya selain menyelamatkan Israel dari kekalahan memalukan, rezim ini punya kesemptan untuk melemahkan posisi politik Hamas.

Perang tampaknya akan berhenti dalam beberapa hari mendatang dan bila itu benar-benar terjadi, kekalahan memalukan kembali menimpa Rezim Zionis Israel. Namun kekalahan ini berbeda dengan kekalahan yang mereka terima dari Hizbullah. Karena kekalahan militer Israel di Gaza lebih parah dan dampaknya lebih besar, mengingat rezim ini kalah dalam perang di daerah yang didudukinya.

  1. Ada beberapa poin ringkas yang bisa dibahas mengenai dampak dari kekalahan Zionis Israel di Gaza:
    Rezim Zionis Israel memulai perang dengan terlebih dahulu mengumumkan daerah krisis keamanan hingga radius 20 kilometer dari Jalur Gaza. Berdasarkan pernyataan ini, demi meyakinkan warga Israel agar ikut bersama-sama menyelesaikan masalah serangan roket ke daerah-daerah dalam radius tersebut. Masalah ini kemudian diusahakan oleh Israel menjadi isu untuk menyerang Gaza.
    Perang kemungkinan dalam beberapa hari lagi akan berakhir dan masalah serangan roket dari Gaza bukan saja tidak dapat diselesaikan, bahkan jangkauan roket milik para pejuang Palestina melampaui jarak 20 kilometer hingga 50 kilometer. Militer Zionis Israel sendiri memperkirakan bahwa kemungkinan besar para pejuang Palestina memiliki roket dengan jarak 60 dan 70 kilometer. Berdasarkan ini bila Rezim Zionis Israel memulai perang demi melindungi nyawa sekitar 150 ribu warganya yang ketakutan dan hidup dalam radius 20 kilometer dari Jalur Gaza, kini rezim ini harus melindungi kekhawatiran sedikitnya 1,5 juta warga penjajah yang ketakutan sewaktu-sewaktu menjadi korban roket para pejuang Pakestina.
  2. Sebelum perang Gaza dimulai Rezim Zionis Israel, serangan roket Hamas ditembakkan hanya ke arah dua kota Asqalan dan Sderot dan rezim ini hanya fokus untuk menjamin keamanan dua daerah ini. Namun kini Zionis Israel harus menjamin keamanan pangkalan strategis nuklirnya di Dimona dan ibu kotanya sebagai pusat strategis politik.
  3. Sebelum perang Gaza dimulai Rezim Zionis Israel sesumbar memiliki informasi intelijen detil mengenai tempat persenjataan militer muqawama dan tempat persembunyian para pemimpin muqawama. Namun setelah perang dimulai, satu-persatu sesumbar itu mulai runtuh dan terbukti kalau militer Zionis Israel tidak punya informasi mengenai dua hal itu, padahal militer rezim ini memiliki berbagai fasilitas intelijen modern dan ratusan agennya di Gaza. Kemampuan para pejuang Palestina menyembunyikan pasukan dan fasilitasnya menjadi poin kelebihan informasi dan intelijen mereka dan mencoreng nama besar Dinas Rahasia Israel, Mossad.
  4. Rezim Zionis Israel ternyata selama 4 tahun ini, setelah menarik mundur pasukannya dari Gaza, tidak mampu memahami kekuatan dan transformasi muqawama dan dengan ketidaktahuan militernya memasuki medan perang. Kenyataan ini menunjukkan sistem peringatan dini; Dinas Rahasia Israel, para pejabat tinggi pengambil keputusan dan militer Israel punya masalah besar. Tampaknya mitos kehebatan Israel terlalu dibesar-besarkan sehingga mampu meninabobokkan negara-negara Arab.
  5. Rezim Zionis Israel dengan melakukan blokade 18 bulan yang diterapkannya terhadap Gaza, menutup semua jalur-jalur penyeberangan dan menolak mengeluarkan warga Gaza dari sana selama perang dimaksudkan untuk menekan warga Gaza menarik dukungannya dari Hamas dan legalitasnya. Namun ternyata prediksi itu salah dan sebaliknya, tidak hanya warga Gaza yang mendukung Hamas, tapi juga warga Palestina yang berada di Tepi Barat Sungai Jordan. Bahkan masyarakat dunia semakin simpati dengan muqawama dan setiap harinya turun ke jalan memberikan dukungan.
  6. Rezim Zionis Israel posisinya kini semakin terjepit. Dari utara di ancam oleh Hizbullah dan dari selatan oleh muqawama Palestina. Rezim Zionis Israel kini berada di antara dua mata gunting yang setiap saat mengancamnya bila masih tetap keras kepala dan melakukan agresi brutalnya.

*Tulisan ini terlebihdahulu diposting pada milist islam-alternatif@yahoogroups.com

Tinggalkan komentar

Filed under Article, Politic, Report, Security, War

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s