Musa Abu Marzuq, Hamas Pertimbangkan Serangan Bunuh Diri

Jakarta: Sebagai salah satu tokoh kunci Hamas, ia menjadi incaran nomor satu Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Karena itu, wajar saja ia mempunyai banyak nama: Musa Abu Marzuq alias Said Abu Marzuq alias Abu Umar alias Musa Muhammad Marzuq. Ia kini warga negara Yaman dan pernah berpaspor Mesir serta Amerika Serikat.

Dilahirkan di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza, Abu Marzuq merupakan ketua pertama Biro Politik Hamas ketika lembaga itu dibentuk pada akhir 1992. Lima tahun kemudian posisinya turun menjadi wakil ketua. Jabatannya diisi oleh Khalid Misya’al sejak pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas, Syekh Ahmad Yasin, tewas oleh rudal Israel pada 2004.

Lelaki yang akan berulang tahun ke-58 pada Jumat pekan depan ini meraih gelar PhD bidang teknik di Amerika Serikat. Pada 1992, ia pindah ke Yordania dan tiga tahun kemudian diusir dari negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel itu. Namun, ia ditangkap di Bandar Udara John F. Kennedy, New York, pada 25 Juli 1995 lantas dipulangkan ke Yordania. Dua tahun kemudian ia diusir lagi dan menetap di Damaskus, Suriah, hingga sekarang.

Bersama Syekh Ahmad Yasin, ayah enam anak ini pernah menjadi alat tukar pembebasan dua anggota Mossad yang ditangkap lantaran berupaya membunuh sang Syekh.

Sebagai pemimpin, ia sangat sibuk, apalagi saat ini Israel sedang menggempur Gaza. Menurut istrinya, Wakil Ketua Biro Politik Hamas di Damaskus, Suriah, itu bisa rapat hingga tengah malam. Kepada Faisal Assegaf dari Tempo, Kamis lalu, ia menjelaskan soal posisi Hamas terhadap agresi kali ini. Berikut penuturannya:

Apakah Hamas siap berperang dalam jangka panjang dengan Israel?
Hubungan antara Hamas dan Israel tidak sama dengan hubungan antara dua negara di dunia. Hubungan Hamas dengan Israel adalah hubungan antara rakyat Palestina dan penjajah. Jadi yang terjadi antara kami dan Israel dalam agresi militer kali ini dan sebelum ini bukanlah sebuah perang. Namun, kami melakukan perlawanan terhadap penjajah untuk memperoleh hak-hak kami. Mereka telah membunuhi rakyat Palestina dan membuat kami menderita.

Apakah Anda yakin Hamas dapat bertahan kali ini?
Tentu saja. Ini seperti pengalaman bangsa lain yang pernah dijajah. Kami tidak akan pernah menyerah sampai kami beroleh kemenangan. Hamas memang bukan sebuah kekuatan super, tapi kami tidak punya pilihan. Kami harus tetap bertahan dan berjuang sampai penghabisan sehingga tujuan kami tercapai: penjajahan Israel atas Palestina berakhir.

Menurut Anda, agresi militer kali ini bermotif politik bahwa Perdana Menteri Ehud Olmert dan Menteri Luar Negeri Tzipi Livni berupaya mengembalikan citra Kadima, yang anjlok menjelang pemilu Februari tahun ini?
Itu adalah salah satu tujuan dari agresi ini. Sekarang Livni dan Barak akan menghadapi Netanyahu dalam pemilu mendatang. Sebenarnya, tidak akan ada perang bila pemerintah lebih memperhatikan masalah ekonomi yang sedang dilanda krisis. Namun, mereka lebih suka berbicara kepada rakyat Israel soal berapa banyak warga Palestina yang telah berhasil dibunuh. Mereka hanya membahas berapa banyak darah yang sudah tumpah di jalan-jalan di Jalur Gaza.

Apakah Hamas sudah mendapatkan janji dari pemimpin Hassan Nasrallah untuk membantu menghadapi serbuan Israel?
Kami tidak mendapatkan janji bantuan dari pihak mana pun. Tapi tentu saja mereka punya pilihan untuk membantu dan keputusan itu sepenuhnya ada pada mereka.

Apa yang dilakukan Hamas untuk membalas serangan Israel?
Kami memiliki semua cara untuk melancarkan serangan balasan.

Termasuk serangan bunuh diri?
Soal serangan bunuh diri terserah perlawanan rakyat di lapangan.

Menurut Anda, sekarang saat yang tepat untuk melakukan gelombang serangan bunuh diri?
Itu ada dalam agenda politik kami.

Apakah Anda kecewa dengan tanggapan dunia, terutama dari negara-negara Arab dan muslim yang kali ini juga hanya bisa mengutuk saja?
Tentu saja kami sangat kecewa. Padahal umat Islam memiliki kewajiban membantu dan ada banyak cara untuk itu.

Tapi yang paling dibutuhkan seharusnya mengirim pasukan untuk mengakhiri penjajahan Israel?
Saya paham mereka tidak dapat melakukan itu sekarang. Tapi mereka bisa bersuara lebih keras lagi untuk menekan masyarakat internasional supaya mengakhiri serangan Israel. Mereka semestinya memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, memotong pasokan minyak buat Israel, atau memutuskan hubungan ekonomi dengan Israel.

Anda merasa sangat lelah dengan konflik yang sudah berlangsung selama 60 tahun ini?
Tentu saja tidak. Ini adalah cara kami membantu rakyat Palestina memperoleh hak-hak mereka.

Anda percaya konflik ini akan abadi?
Tentu saja konflik ini tidak akan pernah berakhir. Satu-satunya cara penyelesaian adalah memberikan hak rakyat Palestina. Tidak ada pihak mana pun yang berhak menyuruh kami menghentikan perlawanan untuk mengakhiri penjajahan Israel.

Jadi Anda yakin tidak akan pernah ada negara Palestina?
Negara Palestina harus berdiri, tapi itu tidak dapat dicapai melalui perundingan. Itu hanya bisa tercipta dengan perlawanan. [tempo interaktif].

Tinggalkan komentar

Filed under News, Politic, War

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s