BERTAUHID MENSYARATKAN BERWILAYAH

img_4707Oleh : DR. Muhammad Fana’ie Eshkavari

Setelah tahmid dan shalawat. Selamat memperingati hari kelahiran Imam Ali Ar-Ridha, semoga Allah memberikan kita kesempatan memperoleh syafaatnya. Assalâmu’alaikum wa rahmatullâh.
Dalam beberapa menit ini saya akan menyampaikan sebuah sabda beliau yang Insya Allah Anda semua sudah pernah mendengarnya. Kemudian saya akan membahas beberapa hal mengenai hadis tersebut. Ada sebuah hadis qudsi yang terkenal, yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya, sehingga dikenal dengan istilah silsilah dzahabiah (rantai perawi yang dinilai dengan emas). Suatu hari Imam Ali Ar-Ridha mengucapkan hadis qudsi tersebut, “Lâ ilâha illallâh adalah benteng-Ku. Barangsiapa memasuki benteng-Ku maka akan aman dari azab-Ku.” Setelah beberapa langkah, Imam Ali Ar-Ridha melanjutkan, “Tetapi dengan syarat; dan aku di antara syarat tersebut.”

Dalam hadis ini, Imam Ali Ar-Ridha menyampaikan dua hal yang penting dan mendasar dalam Islam. Pertama adalah tauhid, yakni pengesaan terhadap Allah, dan yang kedua adalah wilâyah, yakni kepemimpinan Ahlul Bait. Tauhid adalah pijakan dasar yang diyakini oleh setiap muslim, dan semua ajaran Islam bersumber dari ajaran yang satu ini. Memang semua Muslim sepakat akan keesaan Allah SWT, walaupun pada saat yang sama pemahaman tauhid tentu bisa jadi berbeda antara yang satu dengan yang lain. Karena tauhid merupakan samudera yang luas dan dalam, semakin kita menyelam maka semakin dalam pemaknaan tersebut.
Tidak ada pernyataan yang paling mendasar dalam Islam selain kalimat tauhid tersebut, di mana kita mengatakan tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan tidak ada ketaatan selain bersumber dari Allah SWT. Jika kita ingin memahami lebih dalam kalimat tersebut, maka kita akan mendapat kesimpulan bahwa tidak ada kebaikan dan kesempurnaan yang bersumber selain dari Allah. Karena setiap kesempurnaan, kebaikan dan keindahan merupakan manifestasi dari Allah SWT.
Di antara manifestasi Tuhan di muka bumi yang mewakili keindahan Allah adalah seseorang yang disebut dengan walî atau wali Allah. Walî adalah seseorang yang memiliki kesempurnaan yang tinggi. Kesempurnaan yang bersumber dari Allah karena usahanya, ibadahnya, dan kedekatannya kepada Allah. Karena karunia itu bersumber dari Allah, maka wali tidak mungkin sejajar dengan Allah. Karena itu, wali adalah seseorang yang paling sempurna dalam bertauhid kepada Allah.

Dalam hadis tadi, Imam juga menyebutkan hal lain; selain tauhid dan wilayah, Imam juga menyebutkan tentang muwahid, yakni siapa yang paling layak disebut bertauhid kepada Allah. Ketika kita menyebut wali, maka para imam Ahlul Bait adalah pribadi yang paling layak menyandang kata tesebut, sebagaimana dalam hadis tersebut. Dan sebelum sampai kepada Imam, yang paling layak menyandang kata tersebut adalah Rasulullah. Sebagaimana dalam sebuah ayat Allah berfirman: Sesungguhnya wali kalian adalah Allah dan Rasul-Nya… (QS. Al-Mâidah : 55)

Cahaya wilayah para imam didapatkan dari cahaya Rasulullah dan Rasulullah mendapatkan cahaya tersebut dari Cahaya Allah. Allah berfirman: Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi (QS. An-Nûr : 35). Dalam Doa Kumail pun kita menyeru Allah dengan Ya Nûr Ya Quddus. Allah-lah cahaya yang sempurna, mutlak, dan tidak ada kegelapan sedikit pun. Cahaya tersebut terpancar kepada Rasul dan Ahlul Bait, karena Rasul adalah makhluk yang paling dekat kepada Allah, dan setelah Rasul, Ahlul Bait adalah yang paling dekat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dunia dan segala isinya merupakan kegelapan dan hal itu tidak akan bermakna tanpa cahaya yang sampai kepadanya. Cahaya yang pertama kali memancar dari Allah SWT adalah cahaya yang memancar kepada Rasul dan dengan cahaya yang dibawa kepada Rasul kemudian sampai kepada para Imam Ahlul Bait dan barulah setelah itu kepada makhluk Allah lainnya beserta isi dunia. Tanpa mereka dunia berada dalam kegelapan. Mustahil bagi kita membayangkan dunia tanpa wali-wali Allah.

Karena itu, merupakan pemahaman yang salah jika kita meyakni wali hanya berada dalam lembaran sejarah; hidup dan meninggal lalu selesai, kemudian kita peringati dan kita cintai. Ini adalah pemahaman yang salah karena wali harus ada pada setiap zaman. Karena tanpa wali dunia beserta isinya berada dalam kegelapan. Wali dibutuhkan dalam rangka agar dunia dan isinya mendapat cahaya Allah. Tanpa wali maka tidak ada yang layak menerima cahaya Allah untuk kelangsungan dunia ini. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Jika tidak ada hujjah maka dunia dan isinya akan hancur.”

Permasalahan wilayah Ahlul Bait bukanlah permasalahan sejarah, tapi merupakan sebuah hal yang akan terus belangsung hingga akhir zaman. Bukankha kita membaca dalam Doa Nudbah, “Di manakah orang yang menjadi penyambung antara langit dan bumi?” Hal ini membuktikan bahwa di setiap zaman harus ada wali dari keturunan Rasulullah yang akan “menyambungkan” antara langit dan bumi dan itulah hakikat keberadaan Imam Mahdi baik scara fisik atau ghaib.

Begitu juga dengan keberagamaan kita yang diwujudkan dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah tidak akan terlaksana kecuali dengan pemahaman kita kepada para imam. Dalam sebuah doa disebutkan: “Ya Allah kenalkan kepadaku siapa Engkau, karena ketika aku tidak mengenal-Mu, maka aku tidak akan mengenal nabi-Mu. Ya Allah kenalkan kepadaku siapa nabi-Mu, karena ketika aku tidak mengenal nabi-Mu maka takut tidak akan mengenal siapa hujjah-Mu, dan ketika aku tidak mengenal hujjah-Mu pada zaman ini maka aku akan berada dalam kesesatan.” Mengapa kesesatan? Karena kita berada dalam kegelapan. Kita tidak mendapat cahaya Allah yang dititipkan kepada mereka. Bersama dengan Ahlul Bait kita berada dalam cahaya. Sebagaimana firman Allah: Allah adalah walî orang-orang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, wali-wali mereka ada thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan… (QS. Al-Baqarah : 257).

Dari sini kita bisa memahami mengapa Imam Ali Ar-Ridha menyebutkan dalam hadis tetadi “Aku adalah salah satu syarat”. Mengapa Imam menyebutkan bahwa orang bisa selamat dari siksa Allah dengan lâ ilâha illallâh tapi juga harus menyandingkannya dengan Imam Ali Ar-Ridha? Karena bertauhid tanpa ada wilayah kepada Ahlul Bait yang pada zaman itu adalah Imam Ali Ar-Ridha, maka akan menyebabkan adanya kegelapan dan kesesatan. Sedangkan cahaya hanya kita dapatkan dari mereka sebagai pelanjut dari Rasul.

Memang kenabian merupakan sebuah perjalanan sejarah yang kemudian akan berakhir ketika terjadi kematian, namun wilayah tidaklah demikian. Wilayah terus bersambung selama dunia ini ada dan haruslah ada seorang wali yang menyambung ajaran Allah kepada manusia melalui nabi dan cahaya Allah. Memang benar bahwa Rasulullah SAW adalah nabi terakhir, wahyu yang diturunkan sebagai pemberi petunjuk kepada manusa adalah Quran kita terakhir. Setelah ini tidak ada lagi nabi dan kitab. Tapi dibutuhkan imam yang akan menafsirkan wahyu tersebut kepada manusia dan membimbing manusia kepada konsep Allah dalam Al-Quran. Kenabian dapat berhenti, namun wilayah tidak akan berhenti.

Karena itu tidak benar jika seseorang mengatakan bahwa ketika Allah menurukan Quran dan Quran sebagai wahyu dan kitab terakhir, maka untuk apalagi kita butuh petunjuk lain atau wali. Penjelasannya adalah bahwa wali bukanlah membawa petunjuk baru, bukan membawa agama baru, tapi para wali setelah Rasul adalah penjelas tentang maksud Quran dan pemberi petunjuk. Untuk beragama kita butuh kepada wali, karena tanpa petunjuk imam maka keagamaan kita menjadi salah. Sementara kalau ada pemahaman dan praktik yang ma’shûm, hal itu menjamin kemurnian agama yang sampai kepada kita.

Keberadaan Quran sebagai konsep dan sunnah sebagai pemberi petunjuk tidak menjamin setiap orang akan berada dalam kesalamatan dan berada dalam cahaya. Karena dibutuhkan mereka orang yang mengontrol pemahaman dan praktik yang benar yang diambil dari Quran dan sunnah, itulah peran imam Ahlul Bait. Bukti nyata ketika orang meninggalkan Ahlul Bait maka akan muncul problem dan masalah serta perpecahan, keterpurukan dan keterbelakangan dalam umat Islam.

Karena itu Imam Ali Ar-Ridha AS menegaskan bahwa lâ ilâha illallâh tidaklah cukup, tetapi harus dimitrakan dengan Ahlul Bait yang pada zaman itu adalah beliau. Itulah syarat yang menyelamatkan manusia kemudian kita harus berpegang teguh kepadanya. Ketika Imam menyebutkan hal itu, hal itu bukan berasal dari dirinya dan ucapannya tidak terlepas dari Al-Quran. Karena Quran pun menyebutkan bahwa kalimat tauhid saja tidak cukup. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka… (QS. Fushshilat : 30). Hal itu berarti harus diiringi dengan konsistensi (istiqamah) bahwa kita harus mengamalkan tauhid selain beramal saleh adalah berwilayah kepada Ahlul Bait.

Tentu berwilayah kepada Ahlul Bait tidak cukup hanya dengan ucapan dan keinginan untuk berziarah kepada makam beliau. Tapi berwilayah kepada Ahlul Bait adalah dengan memperbanyak mengenal dan mendalami hakikat dan ajaran yang beliau sampaikan. Memahami tidak terlalu butuh biaya besar sebagaimana ziarah, meski berziarah memiliki keutamaan dan pahalanya tersendiri. Tapi jangan lupa bahwa menggali ilmu makrifat tentang apa yang beliau sabdakan merupakan bagian terpenting. Apa yang saya sampaikan hanya satu hadis dan sebagian penjelasan dari hadis tersebut. Anda semua dapat melanjutkan pemahaman tersebut. Sekali lagi selamat atas kelahiran beliau. Wassalâmu ’alaikum.

[ sumber; http://shialibrary4u.blogspot.com ]

Tinggalkan komentar

Filed under Politic, Religion, Theology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s