Tiga Dekade Revolusi Islam

Sudah mafhum bahwa Revolusi Islam Iran memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan revolusi-revolusi lain. Kendati kajian tentang ini secara historis telah banyak dilakukan, namun sisi-sisinya yang khas masih banyak yang tak tersentuh. Aspek-aspek yang dimaksud terangkum dalam pertanyaan-pertanyaan: Apakah ini adalah revolusi yang sebenarnya? Bagaimanakah revolusi ini terjadi? Apakah revolusi ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi negara lain? Uraian berikut akan berusaha menjawab pertanyaan ini secara relative singkat.

Revolusi Islam Iran kini telah berusia tiga dekade. Sebuah revolusi agung yang memiliki identitas berbeda dengan revolusi lain yang pernah terjadi di dunia. Revolusi Islam Iran terjadi pada tahun 1979 yang mengubah peta perimbangan di tingkat regional dan global. Sejak pertama musuh telah menentukan ultimatum bagi kehancuran Revolusi Islam ini. Namun kini, Revolusi ini telah berjaya hingga tiga dekade dan terus hidup setelah melampaui berbagai fluktuasi. Bahkan kini Revolusi ini menjadi teladan kebangkitan umat Islam dunia. Menurut para pengamat, kokohnya gerakan Revolusi Islam Iran ini adalah berkat esensi ilahi dan islaminya, serta kekuatan dan kejeniusan kepemimpinan, dan keteguhan perjuangan bangsa Iran. Namun pertanyaan yang paling fundamental adalah mengapa bangsa Iran melakukan revolusi dan faktor apa yang memicu bangsa ini menggulingkan pemerintahan despotik Reza Shah Pahlevi dengan bimbingan langsung pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra. HTML clipboard

Untuk mendapatkan jawaban pertanyaan tersebut, kita harus menelaah kembali sejarah dan kita kembali ke abad-abad sebelumnya. Dunia Islam yang bersandarkan pada ajaran agama Islam merupakan sebuah peradaban gemilang yang dalam perjalanannya mengalami kemunduran secara berangsur. Banyak faktor yang membuat umat Islam tetinggal dari kejayaan masa lalunya. Mulai dari faktor sosial maupun budaya khususnya karena menjauh dari pemikiran mendasar islami. Pada akhirnya gerakan kemajuan umat Islam stagnan dan lumpuh total. Di sisi lain, negara-negara memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas jangkauan penjajahan mereka di dunia Islam. Iran yang juga merupakan bagian dari dunia Islam yang pada satu masa merupakan pemegang panji keilmuan, di satu sisi menghadapi kemerosotan ilmu pengetahuan dan budaya dan di sisi lain menghadapi intervensi asing. Dengan demikian, proses kemajuan bangsa Iran pun ikut terhenti. Namun perlu ditekankan bahwa infiltrasi dan aksi perampokan negara-negara Barat menjadi faktor utama terbentuknya gerakan revolusi bangsa Iran.

Pada hakikatnya infiltrasi imperialis telah dilakukan berabad-abad lamanya oleh Barat terhadap negara-negara berkembang. Selama itu pula Barat berupaya menguras kekayaan bangsa-bangsa Muslim dan mencegah bangsa-bangsa tersebut maju di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Adapun dalam menyikapi fenomena ini, sejumlah cendikiawan Islam mengambil langkah-langkah reformis untuk membangkitkan kesadaran umat Islam. Namun tidak diragukan bahwa langkah-langkah tersebut bersifat temporal dan tidak dapat memicu gerakan fundamental dan meluas di dunia Islam. Akan tetapi, Revolusi Islam di Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra, pada hakikatnya merupakan gerakan besar dan fundamental dalam melawan penjajahan Barat dan dalam rangka membangkitkan dunia Islam dari tidur lelapnya. Meski bangsa Iran tidak dijajah langsung oleh Barat namun infiltrasi dan intervensi luas Barat dalam rangka menguras kekayaan Iran tidak dapat dipungkiri lagi. Bahkan pemerintahan yang berkuasa di Iran pada masa itu sepenuhnya bergantung pada Barat khususnya Amerika Serikat agar dapat tetap berkuasa.

Reza Khan, pencetus silsilah keturunan Pahlevi, berkat dukungan pemerintah Inggris melakukan kudeta pada tahun 1921 dan empat tahun kemudian dengan menggunakan ‘tangan besi’ dan secara diktatoris, ia memaksa parlemen Iran untuk mengakui legalitas dinasti Pahlevi. Kala itu, Barat baru lepas dari Perang Dunia I, dan menyusul kekalahan imperium Ottoman, Inggris berhasil mengontrol sebagian besar kawasan di Timur Tengah termasuk Irak dan Palestina. Dalam rangka memperluas jangkauan politik imperialisnya, Inggris mulai menginfiltrasi sejumlah negara di kawasan termasuk Iran. Hingga tahun 1951 yaitu pada peristiwa nasionalisasi minyak Iran, Inggris menjadi kekuatan mutlak dan interventor utama urusan Iran. Dua tahun kemudian yaitu pada Agustus 1953, melalui kudeta yang dimotori oleh Amerika Serikat terhadap pemerintahan PM Musaddeq, Amerika Serikat menjadi negara paling berpengaruh di Iran. Hal ini berlanjut hingga kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Pada hakikatnya, Reza Khan dan putranya Muhammad Reza Pahlevi, pada masa pemerintahan despotik mereka selama 52 tahun senantiasa mendukung dan bergantung pada kekuatan Barat.

Muhammad Reza Pahlevi, putra mahkota Reza Khan, sedemikian bergantung kepada Amerika Serikat bahkan untuk urusan sekecil apapun dia harus mempertimbangkan kepentingan Amerika. Berdasarkan doktrin keamanan Amerika Serikat yang disebut ‘Keamanan Dua Pilar’, Iran dan Arab Saudi merupakan dua lengan eksekutif politik keamanan Amerika di kawasan. Rezim Shah, memiliki hubungan yang sangat erat dengan Rezim Zionis Israel dan demi menjaga kepentingan Amerika, Iran menandatangani pakta CENTO (The Central Organization), sebuah pakta anti-Uni Soviet. Di dalam negeri, seluruh keputusan yang diambil harus memperhatikan kepentingan Amerika Serikat. Duta Besar Amerika Serikat untuk Iran secara langsung membimbing kebijakan pemerintahan despotik Rezim Shah.

Salah satu kebijakan Rezim Shah yang didukung oleh Amerika Serikat adalah militerisme. Sejak tahun 1973 di saat harga minyak melambung, sebagian besar pendapatan negara Iran dibelanjakan di sektor militer dan untuk membeli persenjataan. Data menunjukkan bahwa selama tahun 1971 hingga 1977, Shah telah membelanjakan 12 milyar dolar untuk membeli persenjataan dari Barat. Padahal saat itu masyarakat Iran hidup dalam kondisi yang sangat sulit sementara Iran tengah tidak terancam bahaya serangan luar negeri. Artinya, untuk saat itu Iran tidak memerlukan persenjataan dengan kapasitas sedemikian besar. Dengan memiliki jajaran militer yang secara lahiriyah kokoh dan dilengkapi persenjataan moderen, Rezim Shah beranggapan bahwa dia tidak akan dapat digulingkan. Namun Shah melupakan fakta bahwa struktur militernya ini terbentuk atas para tentara yang menentang imperialisme asing serta despotisme Shah.

Sumber minyak Iran yang melimpah membuat pihak asing sangat berambisi untuk menguasainya. Industri minyak Iran dimonopoli oleh Inggris dan kemudian Amerika Serikat untuk jangka waktu yang cukup lama. Bahkan 40 persen saham minyak Iran dimiliki oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Belum lagi pendapatan minyak yang dibelanjakan demi kepentingan ilegal asing. Rezim Shah menyuplai 65 persen kebutuhan minyak Rezim Zionis dan 95 persen rezim rasialis Apharteid di Afrika Selatan. Selain itu, pembelian persenjataan dari Amerika Serikat juga membuat pendapatan negara dari sektor minyak harus selalu mengalir ke kantong-kantong perusahaan Amerika. Dalam berbagai mega proyek penting, Rezim Shah enggan memanfaatkan kemampuan dalam negeri dan selalu menyerahkannya kepada perusahaan asing khususnya Amerika Serikat.

Meski demikian sejumlah program ekonomi dan industri Rezim Pahlevi tersebut cenderung mengacu pada aksi pamer dan propaganda saja karena pada hakikatnya tidak ada program yang mengubah kondisi masyarakat. Profesor Nikki Keddie, dosen sejarah di universitas California, dalam bukunya berjudul ‘Akar dan Hasil Revolusi’ menyebutkan bahwa proyek ekonomi dan industri pada masa Rezim Shah pada hakikatnya merupakan program yang mahal dan bersifat pemborosan karena memang tidak didesain untuk kondisi Iran saat itu. Seluruh program tersebut tidak ada membuahkan hasil apapun kecuali kegagalan. Padahal pada saat itu, kondisi masyarakat Iran sangat sulit dan sebagian besar warga terhimpit oleh buruknya kondisi ekonomi. Di lain pihak, skandal korupsi dan suap keluarga dan kerabat Shah serta hak istimewa yang diberikan kepada mereka juga kian memperlebar jurang kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Dalam rangka menutupi kesenjangan ekonomi dan sosial masyarakat ini, pada tahun 1963, Shah menggulirkan program reformasi ekonomi yang justru kontraproduktif. Namun program tersebut justru semakin mempersulit kondisi di sektor pertanian dan meningkatkan arus eksodus warga desa ke kota. Sebagai imbasnya kemiskinan kian merajalela. Hanya keluarga dekat dan kerabat Shah saja yang memiliki kekayaan melimpah karena mereka mengantongi sebagian besar pendapatan minyak negara. Profesor Keddie dalam hal ini menulis, “Tidak diragukan lagi bahwa program reformasi Shah tersebut adalah pengurasan kantong warga miskin untuk kalangan elit yang berhubungan dengan istana. Alhasil, warga Iran pada masa itu menderita akibat buruknya kondisi perekonomian dan diskriminasi sosial yang di satu sisi menguntungkan keluarga istana dan di sisi lain menguntungkan kartel-kartel imperialis.[im/mt/iribnews]

Tinggalkan komentar

Filed under Law, Politic, Religion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s