Menelaah Peristiwa di 12 dan 13 Khurdad 1368 S Bersama Imam Khumaini

Betapa cepat waktu berlalu. 19 tahun lalu, rasanya baru kemarin ketika rakyat Iran dan Islam menjadi yatim karena kehilangan Imam dan pemimpinnya.

Sayyid Ahmad Bahauddin adalah salah satu penjaga dekat Imam. Setelah peristiwa 7 Tir, sekelompok orang di Jamaran dipilih sebagai ‘lingkaran awal penjaga’ Imam. Sayyid Ahmad Bahauddin juga termasuk dalam kelompok tersebut dan satu-satunya dari 20 penjaga yang masih hidup karena sisanya telah syahid dalam perang 8 tahun melawan Irak. Karena kedekatannya dengan Ayatullah Udzma Bahauddin, sahabat lama dan temen seperguruan Imam, mendapat perhatian khusus dari Bait Imam. Ketika menggambarkan 8 tahun terakhir umur Imam yang penuh berkah itu, Sayyid ahmad Bahauddin berkata:

“Sejak datang ke Tehran dan menetap di Jamaran, Imam Khomeini qs sama sekali tidak pernah pergi ke kota lain seperti Qom atau Masyhad. Untuk pengobatan beliau juga tidak keluar dari daerah Jamaran karena beliau hanya merujuk ke Psuat Kesehatan yang dibangun didekat Husainiah. Setelah mendapat serangan jantung pada tahun 1359 S, beliau pernah menderita gagal jantung pada tahun 1364 namun karena masalah-masalah negara dan memuncaknya perang melawan Irak, dan dalam rangka mencegah agar ruh rakyat dan pejuang Iran tidak lemah, berita itu tidak pernah diumumkan. Peristiwa ini terjadi pada akhir tahun 1364 di kamar istrahat Imam. Setelah dr. Muqaddas, dokter penjaga Imam, memeriksa dan memberi tahu hasil pemeriksaan, kami buru-buru menemui Imam. Kami kira kami sudah kehilangan Imam. Tapi setelah dr. Muqaddas melakukan pernapasan dari mulut ke mulut dan melakukan beberapa shock electric, pelan-pelan tanda kehidupan kembali muncul. Tetapi kondisi Imam sangat tidak stabil dan harus segera dibawa ke rumah sakit dengan usungan.

Selama 24 hari Imam menginap di rumah sakit dengan sembunyi-sembunyi. Kami menutup semua jalan masuk dan jalan keluar sedemikian rupa hingga orang-orang dekat kami sekalipun tidak mengetahui kabar ini. Karena kepentingan militer memang menuntut demikian. Namun, hal ini tentu saja menjadi santapan empuk propaganda radio-radio Barat dan mereka segera menyebarkan kabar bohong wafatnya Imam.

Masa-masa ini sangat sulit bagi kami sebab Imam setiap minggu selalu mengadakan pertemuan dengan keluarga syuhada. Imam sendiri yang mendesak agar kegiatan ini selalu dilaksanakan dan keluarga syuhada juga telah terbiasa dan sangat menanti-nanti pertemuan ini. Ketika Imam masuk rumah sakit, pertemuan tidak dilaksanakan selama kurang lebih 3 minggu. Kami sendiri sangat tertekan. Dan hari ketika Imam kembali ke Jamaran bertepatan dengan pertengahan Sya’ban. Sayyid Ahmad Khomeini berpendapat bahwa dalam perayaan wiladah Imam Zaman as, Imam harus hadir karena selain membatalkan kabar bohong musuh kehadiran Imam sendiri bisa menyegarkan hati Imam. Oleh karena itu, Sayyid Ahmada Khomeini berkata kepada saya: Bisakah anda hiasi Husainiah dengan lampu warna-warni?

Untuk pertama kalinya, Husainiah Jamaran [Husaimiyah Imam Khomeini. red] dihiasi lampu warna-warni dan Imam hadir dalam perayaan wiladah Imam Mahdi as. Para dokter tidak memberi izin Imam untuk ceramah. Tetapi, alhamdulillah, perayaan berlangsung dengan baik dan menyenangkan.

Imam bersikap sangat biasa kepada kami dan beliau sering mengemukakan beberapa hal kepada kami. Setelah perayaan pertengahan Sya’ban di Husainiah Jamaran itu, saat Imam hendak mengambil wudhu di Rumah sakit, beliau berterima kasih kepada saya karena telah menghiasi Husainiah. Terima kasih Imam menghapus semua keletihan 24 jam yang saya rasakan. Karena ketika saya berkata: “Insya Allah anda meridhai pekerjaan kami”. Beliau menjawab: “Insya Allah Imam Zaman meridhai anda karena anda telah mendekor Husainiah sedemikian rupa dalam perayaan itu”.

Kapan saja orang yang lebih muda usianya dari Imam melakukan suatu pekerjaan untuk Imam, Imam pasti akan berulang kali mengucapkan terima kasih dan bahkan meminta maaf , sampai-sampai kita merasa malu.”

Ketika menceritakan penyakit terakhir Imam yang berakhir dengan wafat Imam, Sayyid Ahmad bahauddin berkata: “Sekitar sebulan sebelum 14 Khurdad 1386 S(hari wafat Imam), para dokter menyaksikan darah dalam tes laboratorium Imam. Sebenarnya Imam sudah mengetahui masalah darah itu, tetapi karena rasa malu beliau tidak mengatakannya kepaada para dokter. Sayangnya, penyakit Imam sudah cukup parah dan setelah endoskopi, dokter mengumumkan bahwa lambung Imam mengalami pendarahan hebat dan harus segera dioperasi.

Hari ketika Imam berangkat ke Rumah Sakit untuk opname, beliau melakukan salam perpisahan yang aneh kepada keluarganya serta meminta istrinya untuk memaafkan beliau. Padahal sebelumnya, Imam sudah 5 kali opname di Rumah Sakit tersebut. Ketika melihat keresahan Sayyid Ahmad dan istrinya, Imam berrkata: Saya pergi dan tidak akan kembali lagi. Dan ucapan Imam ini mebuat semua orang menangis.

Hari pertama di Rumah Sakit, Imam langsung dibawa ke ruang operasi sebab para dokter menganggap penundaan semenit pun berbahaya bagi Imam. Sayyid Ahmad memakai baju khusus dan ikut masuk ke dalam ruang operasi sementara kami megikuti perkembangan lewat monitor yang ada.

Di antara para dokter, hanya dr. Fadhil yang melihat dirinya mampu menusukkan pisau bedah ke tubuh Imam. Operasi berlangsung selama dua jam dan setelah itu Imam segera dibawa ke ruang CCU. Para dokter keluar dari ruangan. Hanya dr. Ranjbar yang tetap tinggal di dalam. Sebagai salah satu pembantu Imam, saya juga tinggal di dalam ruang CCU itu. Saya berdiri di sisi Imam dan sibuk berzikir demi kesembuhan beliau. Tiba-tiba saya melihat Imam sadar dan segera saya memberitahu dr. ranjbar. Tapi dr. Ranjbar tidak menerima hal itu dan berkata: Minimal, Imam baru sadar 2 atau 3 jam lagi karena beliau dua kali disuntik bius. Tapi karena saya terus memaksa, akhirnya dr. Ranjbar mendekati Imam dan kami sama-sama menyaksikan bahwa bibir Imam tengah bergerak. Dan kami yakin Imam tengah mengucap zikir.

Pada minggu terakhir, kondisi Imam semakin parah. Meski demikian, Imam tetap ngotot untuk selalu dalam kondisi berwudhu. Saya membantu Imam menggerakkan tangannya agar beliau sendiri yang berwudhu. Sementara ruku dan sujud beliau lakukan dengan isyarat.

Hari Sabtu, 12 Khurdad, adalah hari terakhir umur penuh berkah Imam. Semua pejabat teras hadir di sisi Imam. Setelah Zhuhur, pukul 15.15 siang, monitor pernapasan Imam menunjukkan garis lurus. Kami memukul-mukul wajah dan kepala kami sembari menangis. Sayyid Ahmad menjatuhkan wajahnya di atas wajah Imam dan menangis tersedu-sedu. Agha Hashemi Rafsanjani meminta semua orang keluar dari ruangan agar para dokter bisa terus berusaha. Setelah shock electric, tanda-tanda kehidupan Imam kembali muncul tetapi detakan jantung Imam tidak teratur dan Imam sendiri mengalami kesulitan bernafas. Kondisi Imam tidak stabil. Lalu Istri Imam dipanggil masuk ke dalam ruangan dengan harapan Imam akan menjawab ucapan istrinya karena rasa hormat tersendiri yang dimiliki Imam terhadap istrinya. Tapi hal ini sia-sia. Para dokter menganggap bahwa kondisi tersebut akan terus berlangsung sampai 24 jam. Rencananya, Sayyid Ahmad bermaksud memberitahu kondisi Imam kepada rakyat Iran agar merka bisa berdoa untuk kesembuhan Imam.”

Sembari menangis tersedu-sedu, Sayyid Ahmad Bahauddin menceritakan detik-detik menyedihkan itu: “Sampai pukul 22.22 malam doa dan istighasah terus berlanjut. Sampai kemudian Imam tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan apapun danbeliau bergabung dengan alam malakut.”

Sayyid Ahmad Bahauddin melanjutkan: “Agar tercatat dalam sejarah, saya kemukakan hal ini bahwa Imam telah menunaikan shalat terakhir sebelum keperggiannya. Beliau telah mewajibkan dirinya untuk menunaikan shalat malam bahkan ketika di rumah sakit beliau tidak meninggalkan shalat malam sekalipun. Meski tempat beliau berkali-kali dipindahkan dan morfin disuntikkan ke dalam tubuh Imam, beliau tetap berpesan agar kami membangunkan beliau untuk shalat malam. Tetapi Imam selalu bangun lebih dulu sebelum kami membangunkannya. Dalam kondisi paling parah sekalipun, ketika beliau sedang menerima infus darah, beliau tetap shalat malam. Yang ajaib adalah, Imam sama sekali tidak bersedia untuk tayammum.”

Mengenai kegiatan harian Imam, Sayyid Ahmad Bahauddin berkata: “Dalam sehari semalam, Imam menghabiskan waktunya selama 20 jam untuk bekerja, beraktivitas, shalat dan berdoa dan hanya tidur sekitar 4 jam. Beliau sangat teliti memperhatikan waktu sampai-sampai kami mengganti shift jaga malam bersamaan waktu shalat beliau. Setiap hari setelah shalat Shubuh dan nafilah Shubuh, Imam selalu membaca ziarah Asyura, membaca zikir, shalawat dan surah Hasyr. Selama sehari semalam beliau membaca Qur’an 10 kali. Setiap hari beliau membaca 2 kali khutbah pernikahan bagi para pemuda yang baru menikah. Meski Imam sangat memperhatikan masalah politik dan militer negara, Imam tetap melakukan upacara pemasangan imamah dua talabeh setiap harinya.” [Islam Muhammadi/Nov]

Tinggalkan komentar

Filed under Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s