Dengan Khamaenei, Langkah Khomeini Terus Berjalan

Ketika masa perpisahan telah tiba, dan Imam Khomeini mesti berpulang menuju keabadian, rakyat Iran masih merasakan bayangan sosok pemimpin yang penuh kepedulian dan menyebarkan harum Khomeini. Sosok bijaksana yang lahir dari rahim rakyat. Layaknya Imam Khomeini, sosok agung dari Khurasan ini dibesarkan dalam buaian cinta pada Islam dan Al-Quran. Ia adalah sosok yang meyakini bahwa Islam adalah amanat ilahi untuk manusia. Ia adalah sosok yang teguh, yang mengingatkan kita pada ketegasan Imam Khomeini. Ilmu dan ketakwaanya merupakan kebanggaan bagi setiap rakyat Iran. Layaknya Imam Khomeini, Ia memiliki visi yang cerah tentang masa depan umat Islam. Suatu visi yang hendak memuliakan kembali umat Rasulullah saw di antara umat-umat lainnya.

Sebelum wafatnya Imam Khomeini, pemerintah dan media-media Barat gencar mempropagandakan bahwa nasib Revolusi Islam Iran akan berakhir seiring dengan kepergian Imam Khomeini. Kantor Berita Associated Press, segera setelah wafatnya Imam, lantang menyatakan bahwa Revolusi Islam berakhir dengan kepergian Imam Khomeini. Namun 19 tahun lalu, saat sosok agung pendiri Revolusi Islam mengucap selamat tinggal untuk selamanya dengan rakyat Iran, Dewan Ahli memegang kuasa untuk menentukan pemimpin revolusi berikutnya. Dengan tanggap dan cepat, Dewan Ahli memilih Ayatollah Khamenei, sebagai pengganti Imam Khomeini. Keputusan ini, sungguh di luar prediksi media-media Barat. Dengan terpilihnya, Ayatollah Khamenei, masyarakat dunia pun mulai memahami akan kekeliruan analisa media-media Barat selama ini tentang Revolusi Islam Iran.

Ayatollah Al-Udzma Sayed Ali Khamenei memegang tampuk kepemimpinan di saat situasi Iran benar-benar menghadapi ujian berat pasca berakhirnya perang delapan tahun yang dipaksakan rezim Saddam terhadap Iran dan dimulainya era rekonstruksi. Masa-masa kritis itu memerlukan perencanaan, kerja keras, keahlian, dan investasi yang besar. Di sisi lain, tugas untuk mempertahankan nilai-nilai dan prinsip Revolusi Islam, seperti mewujudkan keadilan sosial, merupakan tugas berat yang mesti dipikul.

Begitu juga dengan situasi luar negeri, ada banyak persitiwa penting dunia yang terjadi di masa kepemimpinan Ayatollah Khamenei. Runtuhnya Blok Komunis, yang ditandai dengan tumbangnya Uni Soviet, membuat AS berusaha keras mewujudkan tatanan dunia satu kutub, di bawah hegemoni tunggal AS. Peristiwa besar dunia lainnya adalah munculnya tragedi 11 September 2001 yang berujung pada invasi ke Afghanistan dan Irak oleh AS. Tak hanya itu saja, lewat kebijakan luar negerinya, AS bahkan mengucurkan dana yang begitu besar untuk menghancurkan Revolusi Islam. Serangan masif propaganda media-media Barat dan Zionis melawan cita-cita dan keyakinan bangsa Iran merupakan tekanan eksternal yang terus merongrong kepemimpinan Ayatollah Khamenei. Dalam situasi dunia yang amat kompleks ini, Rahbar atau Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Khamenei, membuktikan keberhasilannya sebagai pemimpin bangsa yang berhasil meredam dan menghalau segala bentuk gangguan dan ancaman, baik dari dalam maupun luar.

Ayatollah Khamenei adalah sosok yang istimewa dan agung yang selalu hadir di medan perjuangan, baik di era pra-revolusi maupun pasca revolusi. Ia adalah orator dan penulis yang ulung. Ia telah banyak berjuang keras untuk merealisasikan cita-cita Imam Khomeini. Ia menyerahkan hidupnya pada cita-cita perjuangan, karena itu ia mengenal betul pelbagai bentuk tantangan dan ujian. Selain itu, peran aktif Ayatollah Khamenei di beragam posisi kunci pemerintahan, seperti kepresidenan, membuat kemampuan dan pengalaman politik Ayatollah Khamenei makin terasah dan teruji. Dalam suatu kesempatan, Imam Khomeini pernah menyebut Ayatollah Khamenei sebagai figur yang layak melayani rakyat. Imam Khomeini menuturkan, “Harus saya katakan, Kalian tidak akan menemukan seorang sosok presiden, raja atau semacamnya seperti Tuan Khamenei, yang memegang teguh Islam dan hatinya selalu berhasrat untuk melayani rakyat”.

Sejatinya, prilaku luhur yang identik dengan Imam Khomeini, seperti sikap bertanggung jawab dan memegang tugas, juga terlihat nyata dalam sosok Ayatollah Khamenei. Ia adalah pemimpin yang bijaksana dan berpikiran tajam. Salah satu kelebihan Ayatollah Khamenei, adalah kemampuannya dalam mengenal musuh yang sejati. Baik Imam Khomeini maupun Ayatollah Khamenei mengenal betul musuh-musuhnya, taktik dan cara-cara yang digunakan mereka. Karena itu, kedua sosok agung pemimpin Revolusi Islam ini begitu cerdas dan bijaksana dalam menghadapi musuh. Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan saat awal kali bertemu dengan Ayatollah Khamenei pernah menyatakan, “Meski saya orang Ghana, namun saya tak memiliki pengatahuan tentang negara saya sendiri seluas beliau. Rakyat Iran dan umat Islam harus bangga memiliki pemimpin seperti beliau”. Kepada para wartawan, Kofi Annan menambahkan, “Sejak awal kali bertemu, Ayatollah Khamenei telah menawan hati saya”.

Kepemimpinan Imam Khomeini dan Ayatollah Khamenei senantiasa diiringi dengan keberanian dan ketegasan. Keberanian yang berarti tidak takut untuk mengambil keputusan di saat-saat kritis dan ketegasan yang berarti teguh dan tidak ragu dalam menerapkan kebenaran. Sikap luhur semacam itulah, yang membuat Republik Islam Iran selalu tegar dalam menghadapi rongrongan dan ancaman musuh. Imam Khomeini lewat pidato-pidatonya yang meresap di jiwa dan membakar semangat, telah mengajak dunia Islam untuk bersikap mulia dan percaya pada dirinya sendiri. Keberanian dan ketegasan beliau membuat adidaya dunia, khususnya AS tak mampu menghadapi kehendak bangsa-bangsa independen lainnya. Kini, dengan keberanian dan ketegasan yang sama, Ayatollah Khamenei terus berjuang mempertahankan kemerdekaan dan identitas Islam Iran sebagai negara yang tangguh di kancah global.

Tidak sedikit yang mengetahui, Rahbar atau Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Khamenei adalah tokoh reformis di zamannya. Ia selalu peduli dengan persatuan dan kemuliaan umat Islam dan bangsa-bangsa tertindas lainnya. Seperti Imam Khomeini, ia juga memiliki cara hidup yang amat sederhana dan begitu merakyat.

Keikhalasan dan spiritualitas Ayatollah Khamenei mungkin bisa disebut sebagai salah satu sifat paling dominan beliau dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Sikap tawakkal beliau yang diiringi dengan keberanian dalam bertindak merupakan karakter luhur Ayatollah Khamenei. Terkait hal ini, Sekjen Gerakan Hezbollah Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah, menyatakan, “Suatu kali, kami dihadapkan pada puncak kesulitan dan persoalan. Seluruh konspirasi dilakukan untuk menghancurkan Hezbullah Lebanon. Namun di masa semacam itu, kami menemui Pemimpin Revolusi, Ayatollah Khamenei. Sikap optimis dan tawakkalnya membuat kami berubah. Beliau berkata, ‘hal yang demikian itu tidak begitu penting. Kalian bakal menang. Saat saya menghadapi kesulitan, saya mengadu dan menyampaikannya kepada Tuhan. Ketika itulah saya merasa sampai pada satu keputusan yang bisa menyelesaikan persoalan”.

Kini, siapapun yang melihat dan mengenal Iran dari dekat, niscaya mengakui bahwa kepemimpinan Ayatollah Khamenei telah mengantarkan Iran menjadi bangsa yang berhasil dan disegani di kancah internasional. Sampai kini, rakyat dan pemerintah Republik Islam Iran masih terus melanjutkan jalan yang ditempuh oleh Imam Khomeini. Mereka tidak hanya berjuang keras untuk mempertahankan dan merealisasikan nilai-nilai luhur Revolusi Islam, tapi juga terus berjuang untuk memajukan Iran di bidang-bidang lainnya, seperti di bidang industri, infrastruktur, ekonomi, dan investasi, agar menjadi negara yang mandiri, bebas, dan dinamis. [irib.ir]

Tinggalkan komentar

Filed under Politic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s