Pengaruh Amerika Tidak Berdaya di Lebanon

Amerika, Eropa dan sebagian negara Arab memang getol mengacungkan tudingan miring terhadap Gerakan Perlawanan Lebanon atau yang biasa disebut dengan istilah Moqawamah, dengan Hezbollah sebagai bagian terpentingnya.

Dengan mengalamatkan berbagai tuduhan terhadap Hezbollah khususnya, mereka berharap dapat melemahkan gerakan perlawanan dan mengesankan bahwa Hezbollah bukan apa-apa jika tanpa bantuan asing.

Tipu daya terbesar yang mereka lakukan terhadap moqawamah Lebanon adalah membuka dan menyulut perang Lebanon musim panas tahun 2006 yang berlangsung selama 33 hari. Berkat pengorbanan, keberanian dan kepiawaian para pejuang, komandan tempur dan pimpinan Hezbollah, Israel dapat ditekuk dan harus rela menelan kekalahan bersejarah yang sangat pahit baginya. Tentu saja, kekalahan Rezim Zionis bagi para pendukung dan pelindungnya juga sangat menyakitkan. Komite Winograd yang dibentuk oleh pemerintah Israel untuk menyelidiki faktor-faktor kekalahan perang tersebut menyatakan bahwa ini adalah kekalahan yang serius. Komite ini lantas menimpakan tanggung jawab kekalahan perang ini ke pundak pemerintah dan para komandan militer.

Lebanon adalah sebuah negara kecil di Temur Tengah yang letaknya di Asia Barat dan di pesisir Laut Meditteria. Negara kecil ini bertetangga dengan Suriah di utara dan Palestina Pendudukan (Israel) di selatan. Laut Meditterania terbentang luas di barat negara ini.

Krisis politik Lebanon yang mengemuka sejak berakhirnya perang 2006, semakin panas setelah kubu-kubu politik yang bersebarangan gagal memilih presiden pengganti Emile Lahoud yang masa tugasnya berakhir November 2007. Parlemen telah berulang kali menangguhkan sidang pemilihan presiden karena gagal menghadirkan para anggotanya.

Liga Arab turun tangan untuk menjembatani friski di antara kubu pemerintah yang lazim disebut kelompok 14 Maret dan kubu oposisi. Berbagai prakarsa untuk mengakhiri kebuntuan pun bergulir. Sebut saja prakarasa Liga Arab, juga sejumlah prakarsa yang datang dari kelompok oposisi semisal usulan Michel Aoun, pemimpin kelompok Kristen Maronite Kebebasan Nasional. Kubu oposisi juga mengusulkan untuk menggelar pemilihan umum dini. Namun semua prakarsa itu mandek setelah ditolak kubu pemerintah.

Pemerintahan Perdana Menteri Fouad Siniora dan kubu 14 Maretnya dinilai oleh oposisi sebagai pemerintahan boneka yang hanya mengamini kebijakan Barat dan dengan ‘tulus’ menjalankan dikte AS. Untuk memprotes sikap itu, lima orang Menteri Syiah (Menteri Luar Negeri, Menteri Energi, Menteri Kesehatan, Menteri Pertanian dan Menteri Tenaga Kerja) serta seorang Menteri Kristen keluar dari kabinet. Kubu oposisi berpendapat bahwa dengan keluarnya enam menteri dari kabinet, pemerintahan Siniora sudah tidak legal lagi. Sebab berdasarkan konstitusi Lebanon, pemerintahan akan kehilangan legalitasnya jika salah satu golongan di negara itu (yang terdiri atas Kristen, Muslim Syiah dan Muslim Sunni) tidak ikut serta dalam pengambilan keputusan di kabinet.

Untuk mengatasi kebuntuan, koalisi oposisi termasuk Hezbollah menyatakan bahwa solusi sebenarnya ada pada pembentukan pemerintahan persatuan nasional. Untuk mewujudkan pemerintahan persatuan, oposisi menuntut sepertiga departemen ditambah satu di kabinet. Jika tidak dipenuhi, kebuntuan bisa diatasi dengan menggelar pemilihan umum legislative dini dan amandemen undang-undang pemilu. Tuntutan itu tidak digubris oleh kubu pemerintah.

Pemerintah Lebanon dan kroni 14 Maretnya dengan berbagai cara berusaha mewujudkan keinginan AS dan Israel yaitu melucuti persenjataan moqawamah (Hezbollah). Begitu perang 33 hari usai, kubu pemerintah langsung menekankan sikapnya yang menghendaki senjata Hezbollah dilucuti. Dengan bantuan AS, dan negara-negara Eropa seperti Prancis dan Inggris di Dewan Keamanan, serta sejumlah negara Arab, plus dengan memanfaatkan resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 yang diajukan oleh AS dan Prancis, pemerintah Lebanon menyuarakan pelaksanaan resolusi DK PBB sebelumnya bernomor 1559 yang juga memuat pasal tentang perlucutan senjata moqawamah.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, AS memang memfokuskan langkahnya di Lebanon pada beberapa hal; diantaranya melucuti senjata moqawamah baik Hezbollah maupun pejuang Palestina di negara itu, memaksa Beirut berdamai dengan Israel, membuka jalan bagi penempatan pengungsi Palestina secara permanen di Lebanon dan mendukung secara penuh pemerintahan boneka Barat pimpinan Fouad Siniora dan kelompok 14 Maret. Untuk memuluskan jalan bagi mewujudkan targetnya, Israel, AS dan negara-negara Barat menghadapi kendala besar dari Hezbollah. Untuk itulah mereka lantas berusaha memburukkan nama dan citra kelompok perjuangan berbasis rakyat dan Islami ini dengan menyebut Hezbollah sebagai milisi Lebanon yang harus dilucuti senjatanya. Barat lantas melakukan berbagai langkah untuk mempreteli senjata Hezbollah dan kelompok-kelompok pejuang Palestina yang berada di negara ini.

Setelah perang usai, rezim zionis Israel dibantu sekutu dekatnya, AS, berulang kali melakukan perang urat syaraf dan tekanan terhadap Hezbollah. Namun gertakan itu dibalas dengan pernyataan tegas kubu moqawamah bahwa setiap serangan baru Israel akan direaksi dengan balasan yang sangat telak dan bakal membuat Israel menyesal. Sekjen Hezbollah Sayid Hassan Nasrolah yang menjadi simbol perlawanan bangsa Arab dan Muslim terhadap rezim zionis dan imperialisme, mengatakan, jika terjadi perang lagi, moqawamah akan mengubah wajah di kawasan. Bagi orang-orang Israel dan umumnya masyarakat dunia, kata-kata Nasrollah bukan hanya gertak sambal.

Tekanan bukan hanya datang dari kubu pemerintah Lebanon dan rezim zionis Israel. AS juga selalu langsung terlibat dengan mengirimkan kapal induk USS Cole ke pesisir Lebanon. Tindakan AS ini dipandang sebagai bukti nyata dukungan AS kepada kubu pemerintah Lebanon. Gerakan moqawamah menyebut langkah ini sebagai intervensi nyata AS di Lebanon.

Perang 33 hari yang disulut Israel dengan restu AS dan sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi dan Mesir ternyata justeru dimenangkan Hezbollah. Akibatnya Hezbollah dan pemimpinnya Sayid Hassan Nasrolah dielu-elukan di seluruh dunia khususnya dunia Islam dan Arab. Tentu saja, hal ini tidak disukai oleh mereka yang menginginkan Hezbollah hancur. Ketidaksukaan itu berlanjut dengan gerakan mereka yang aktif berusaha merusak citra Hezbollah dan Sayid Hassan Nasrollah. Berbagai cara telah mereka lakukan bahkan dengan aksi frontal yang berbau darah semisal teror terhadap para tokoh penting Lebanon agar negeri itu terpanggang dalam kerusuhan dan Hezbollah disibukkan dengan urusan di dalam negeri.

Tak hanya itu mereka juga lantas meneror salah seorang komandan militer Hezollah bernama Imad Mughniyah. Mughniyah pun gugur syahid. Bukti-bukti menunjukkan keterlibatan Israel dalam aksi teror tersebut. Selain Mughniyah, sederet nama tokoh penting termasuk dari kalangan oposisi semisal Pemimpin Kristen Maronite Kebebasan Nasional Michel Aoun ada dalam daftar orang yang bakal diteror. Namun berkat kejelian dan kepekaan kubu oposisi, aksi teror itu dapat digagalkan.

AS, Israel dan sekutu-sekutu Barat maupun Arab-nya menyadari bahwa Hezbollah tidak mudah disingkirkan, namun mereka masih terus berusaha merusak citra dan nama kelompok perjuangan Islam ini. Skenario yang baru-baru ini dijalankan adalah upaya mereka menyeret Hezbollah ke dalam perang saudara. Dengan memecat kepala bandar udara Beirut Jenderal Wafiq Shqeir dan mengeluarkan keputusan menggulung jaringan komunikasi Hezbollah, kubu pemerintah (14 Maret) melakukan tindakan yang sangat provokatif, sebab mereka tahu benar Hezbollah bakal menentang keputusan yang dinilai melanggar garis merah moqawamah.

Konflik pun pecah, namun yang terjadi justeru sebaliknya. Milisi bersenjata yang dikerahkan oleh kubu 14 Maret tak berkutik sama sekali menghadapi pendukung oposisi. Beirut dan kota-kota lainnya dengan cepat berhasi dikendalikan oleh kubu oposisi dan selanjutnya diserahkan kepada militer. Pemerintahan Siniora pun terpaksa menarik kembali dua keputusan konyol itu. Dengan demikian gagal pula lah skenario terakhir kelompok yang pro Barat di Lebanon. Skenario apa lagi yang bakal dijalankan AS di Lebanon? [Islam Muhammadi]

1 Komentar

Filed under News, Politic, Security

One response to “Pengaruh Amerika Tidak Berdaya di Lebanon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s